Zaman Batu Lebih Baik Dari Bitcoin

007ee28f-3fdb-415c-9755-03b726b4f712_169RIFAN FINANCINDO – Harga bitcoin meroket lagi hingga menembus US$ 50.000/US$ dan mencetak rekor tertinggi sepanjang masa Rabu kemarin. Banyaknya perusahaan hingga investor institusional yang membeli atau berinvestasi di bitcoin membuat harganya terus melesat.

Meski demikian, masih tetapi ada yang memandang bitcoin sebelah mata. Profesor ekonomi Nouriel Roubini, atau yang dikenal dengan Dr. Doom, menyebut sistem moneter zaman batu bahkan masih lebih baik dari bitcoin.

Sebagai informasi, julukan Dr. Doom diperoleh Roubini setelah pada tahun 2006 ia memprediksi akan terjadi crash di pasar perumahan yang bubble dan memicu krisis. Prediksinya tepat, pada tahun 2008 terjadi krisis finansial global akibat bubble pasar perumahan di AS.

Dalam wawancara dengan Bloomberg, Roubini mengatakan Flinstones (film kartun yang berkisah tentang jaman batu) memiliki sistem moneter yang lebih baik ketimbang bitcoin.

“Secara fundamental, bitcoin bukanlah mata uang. Itu bukan unit akun, juga bukan alat pembayaran yang terukur, dan bukan penyimpan nilai (store of value) yang stabil,” kata Roubini dalam wawancara tersebut, sebagaimana dilansir Business Insider, Rabu (18/2/2021).

“Menyebut itu mata uang kripto adalah keliru, itu bahkan bukan sebuah aset,” tambahnya.

Dr. Doom mengatakan bitcoin mampu menyelesaikan hanya 5 transaksi per detik, sangat jauh dibandingkan dengan jaringan Visa yang menyelesaikan 24.000 transaksi per detik. Selain itu, volatilitas ekstrim bitcoin yang dapat menghapus nilainya secara signifikan dalam waktu singkat. Hal tersebut membuat Roubini mengatakan Flintsones bahkan memiliki sistem moneter yang lebih baik dari bitcoin.

Saat Roubini mengungkapkan hal tersebut harga bitcoin justru mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah.

Melansir data Refinitiv, harga bitcoin kemarin menyentuh level US$ 52.623,65/BTC yang merupakan level tertinggi sepanjang masa, sebelum mengakhiri perdagangan di level US$ 52.400,44/BTC. Sejak awal tahun, bitcoin kini sudah melesat lebih dari 80%.

Roubini mengatakan meroketnya harga bitcoin tersebut akibat aksi manunipulasi yang masif, dan bitcoin sudah bubble.

Sebelum Roubini, analis dari Bank of America juga menyebut bitcoin aset yang bubble, bahkan dikatakan sebagai “mother of bubble”.

“Reli bitcoin belakangan ini bisa jadi merupakan kasus spekulasi mania lainnya. Bitcoin terlihat seperti ‘mother of all bubbles’,” kata Michael Hartnett, kepala strategi investasi Bank of America, sebagaimana dilansir CNN Business, Jumat (8/1/2020).

Saat itu harga bitcoin masih di kisaran US$ 40.000/BTC.

Hartnett melihat bitcoin yang melesat sekitar 1.000% sejak awal 2019 jauh lebih besar dari kenaikan aset-aset yang pernah mengalami bubble dalam beberapa dekade terakhir. Harga emas yang melonjak 400% di akhir 1970an misalnya, kemudian bursa saham Jepang di akhir 1980an, hingga dot-com bubble di akhir 1990an.

Aset-aset tersebut melesat 3 digit persentase, sebelum akhirnya crash dan nyungsep senyungsep-nyungsepnya.

Meski demikan, Hartnett tidak memberikan prediksi harga bitcoin akan nyungsep, ia hanya menunjukkan jika bitcoin menjadi contoh meningkatnya aksi spekulasi.
Sementara itu JP Morgan dalam catatannya kepada kliennya memperingatkan harga bitcoin kemungkinan akan merosot dari level saat ini.

“Dalam pendapat kami, kecuali volatilitas bitcoin menurun cepat, harga saat ini terlihat tidak akan bertahan lama,” tulis analis JP Morgan sebagaimana dilansir Businesss Insider.
JP Morgan juga mengatakan, saat harga bitcoin meroket 5 bulan terakhir, capital inflow ke bitcoin dari investor institusional relatif kecil.

Seperti yang disebutkan JP Morgan, bitcoin berisiko merosor dari level saat ini. Secara teknikal, bitcoin sudah menyentuh area Fibonacci Extension 61,8% yang berada di kisaran US$ 52.700/BTC.

Fib. Extension tersebut ditarik dari level terendah 2020 US$ 5.533,5/BTC pada 13 Maret lalu, dan level tertinggi tahun ini sebelum mengalami koreksi US$ 41.998,75/BTC pada 8 Januari lalu, dan titik terakhir di level terendah setelah mengalami koreksi US$ 28.745,55/BTC pada 22 Januari 2021.

Sementara itu, indikator stochastic juga menunjukkan bitcoin berada di wilayah jenuh beli (oversold), yang memperbesar risiko koreksi.

Stochastic merupakan leading indicator, atau indikator yang mengawali pergerakan harga. Ketika Stochastic mencapai wilayah overbought (di atas 80) atau oversold (di bawah 20), maka suatu harga suatu instrumen berpeluang berbalik arah.

Selama tertahan di bawah Fib. Extension 61,8%, bitcoin berisiko turun ke US$ 4.8175/BTC yang merupakan Fib. Extension 50%. Jika dilewati, target penurunan selanjutnya di US$ 43.600/BTC.

Sementara itu jika US$ 52.700/BTC ditembus secara konsisten, harga bitcoin berpotensi melesat lebih tinggi lagi.

 

Sumber : cnbcindonesia