Waspadai IHSG Bakal Merah Lagi

Pekerja mengepel lantai di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (19/9). Perdagangan IHSG ditutup pada zona hijau atau menguat 61,81 poin atau 1,06 ke level 5.873,60 meski beberapa waktu lalu tertekan di zona merah sebagai imbas dari neraca perdagangan yang defisit sebesar 1,02 miliar Dolar AS pada Agustus 2018. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/ama/18.RIFAN FINANCINDO – Pada perdagangan sesi Senin (16/3/2020) bursa saham domestik masih mengalami tekanan dahsyat yang membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kandas sebesar 4,42% ke level 4.690,65 dan mendekati level terendah sejak Februari 2016 di 4.639,91 yang dicapai Jumat (13/3/2020) pekan lalu.

Paket stimulus yang digelontorkan baik dari domestik maupun mancanegara tak mampu membangkitkan gairah sentimen pasar. Dampak virus corona atau covid-19 lebih menakutkan bagi para investor.

Langkah Bank Sentral AS atau The Fed yang kembali suku bunga acuan yang sebesar 100 basis poin (bps) ke level 0% – 0,25%, serta putaran baru pelonggaran kuantitatif (Quantitative Easing/QE) senilai US$ 70 miliar untuk membantu ekonomi AS dari dampak virus corona, belum cukup menenangkan pasar saham global.

Nyatanya, bursa saham Indonesia (IHSG) mengikuti rekam jejak kawan-kawan di Asia Pasifik, yang turun tajam dengan saham Australia memimpin penurunan sebesar 9,7% ke 5.002 dan IHSG menjadi terburuk kedua di antara saham Asia lainnya.

Berdasarkan data dari BEI, nilai transaksi pada perdagangan hari Senin kemarin sebesar Rp 5,45 triliun, dengan investor asing melakukan aksi jual bersih Rp 457,75 miliar di pasar reguler. Sementara di pasar reguler dan negosiasi, investor asing total melakukan beli bersih sebesar Rp 297,1 miliar.

Dari dalam negeri rilis neraca dagang oleh Badan Pusat Statistik (BPS) tak mampu ditransmisikan menjadi sentimen positif bagi IHSG. Neraca perdagangan Februari 2020 membukukan surplus US$ 2,34 miliar, tertinggi sejak 2011 juga belum membuahkan hasil sentimen positif.

Lalu dini hari tadi, bursa saham AS, Wall Street, mengalami hari terburuk sejak 1987 pada penutupan perdagangan Senin (16/3/2020). Kekhawatiran akan resesi mencuat di AS seiring ketidakpastian yang ditimbulkan virus corona.

Dow Jones anjlok 12,9% atau hampir 3.000 poin ke 20.188,52. Sementara S&P juga merosot hingga 12% menjadi 2.386,13 sedangkan Nasdaq juga melorot 12,3% ke 6.904,59.

Analisis Teknikal

Harga IHSG yang terus menurun ini tergambar oleh garis dari resistance support Bollinger Band yang semakin melebar. Hal ini mengindikasikan penurunan lanjutan.

Dengan support lanjutan berada di area 4.610 hingga mencapai kisaran 4.530. Sementara tahanan atas atau resistance berada di 4.750 menuju 4.830.

Indikator bantuan menggunakan Moving Average Convergen Divergen (MACD) yang masih berada di wilayah negatif dengan garis Moving Average periode 12 bar dan periode 26 bar yang juga melebar, bisa membuat pergerakan semakin ke bawah lebih dalam.

Secara keseluruhan analisis teknikal belum mampu membaca pergerakan harga secara signifikan karena sentimen negatif pasar yang lebih besar dan kuat di saat paket stimulus tak dapat meredam gejolak pelaku pasar.

Jadi bagi para pelaku pasar, sebaiknya lebih melihat batasan-batasan dari area resistance dan support yang menjadi kunci pergerakan selanjutnya. Jika salah satu batasan tersebut dapat di lewati, maka itulah kecenderungan pergerakan harga yang kan dialami.

 

Sumber : cnbcindonesia