Wall Street Ukir Rekor Baru

0844076ThinkstockPhotos-466192861780x390RIFAN FINANCINDO – Wall Street kembali perkasa usai Federal Reserve memperkirakan pemulihan ekonomi di Amerika Serikat (AS) lebih cepat dan bank sentral tetap akan mempertahankan suku bunga mendekati nol.

Alhasil, dua dari tiga indeks utama cetak rekor tertingginya pada penutupan perdagangan Rabu (17/3/2021).

Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup menguat 0,58 persen ke level 33.015,37 poin, S&P 500 pun naik 0,29 persen menjadi 3.974,12 dan indeks Nasdaq Composite terangkat 0,4 persen ke posisi 13.525,20.

Asal tahu saja, ini adalah pertama kalinya Dow ditutup di atas 33.000 poin. Sedangkan bagi indeks Nasdaq, level saat ini masih melemah 4 persen dari rekor tertingginya yang dicatat pada 12 Februari silam.

Saham Amazon.com Inc yang naik 1,4 persen dan Tesla Inc yang menguat 3,7 persen, menjadi dua perusahaan yang memberikan sokongan terbesar bagi indeks S&P 500.

Enam dari 11 indeks sektoral S&P 500 naik, dengan industri dan kebijakan konsumen menjadi pemain terkuat setelah keduanya naik lebih dari 1 persen pada akhir perdagangan.

Sementara itu, saham perusahaan makanan cepat saji McDonald’s Corp melonjak 1,9 persen setelah Deutsche Bank menaikkan target harga saham dan juga meningkatkan rekomendasinya menjadi buy dari hold.

Keperkasaan bursa saham di AS memang datang setelah pernyataan The Fed setelah pertemuan kebijakan dua hari.

The Fed menyebut, potensi lonjakan pesat dalam pertumbuhan ekonomi dan inflasi AS pada tahun ini karena krisis Covid-19 mereda.

Selain itu, bank sentral AS tersebut juga menegaskan kembali janjinya untuk mempertahankan target suku bunga mendekati nol hingga beberapa tahun mendatang.

Ketua The Fed Jerome Powell juga menegaskan selama konferensi pers, bahwa terlalu dini untuk membahas langkah-langkah tapering-off untuk mendukung ekonomi yang sedang berjuang.

“Pernyataan Fed hari ini lebih optimistis daripada yang diperkirakan beberapa orang, mereka menaikkan prospek mereka untuk pertumbuhan ekonomi dan pasar tenaga kerja. Pandangan pasar dari pernyataan itu adalah cukup optimistis,” kata David Carter, Chief Investment Officer Lenox Wealth Advisors di New York.

Seperti diketahui, Negeri Paman Sam sudah menyetujui paket stimulus jumbo senilai 1,9 triliun dollar AS dan peluncuran vaksinasi yang memicu rotasi pada pasar saham. Di mana, kali ini investor melirik saham yang dipandang mungkin berkinerja lebih baik saat ekonomi pulih dari pandemi virus corona.

Pada saat yang sama, kekhawatiran bahwa stimulus dapat memanaskan ekonomi secara berlebihan dan menyebabkan tingkat inflasi yang lebih tinggi telah memicu kenaikan yang kuat dalam yield obligasi AS dengan tenor panjang dan membuat sektor teknologi dan saham-saham yang biasa menopang indeks menjadi kurang menarik.

Menyusul pernyataan The Fed, yield US Treasury tenor 10 tahun bergerak melemah ke level 1,6374 persen.

 

SumberĀ  : kompas