Wall Street Berakhir Mixed

wall-streetRIFAN FINANCINDO – Wall Street pada perdagangan kemarin berfluktuasi tertekan sektor kesehatan, di mana pelaku pasar menguangkan keuntungan dari salah satu sektor berkinerja terbaik tahun ini.

Seperti dikutip dari Reuters, Jumat (17/3/2017), Indeks Dow Jones Industrial Average koreksi 15,55 poin atau 0,07% ke level 20.934,55, Indeks S & P 500 kehilangan 3,88 poin atau 0,16% ke level 2.381,38 dan Nasdaq Composite naik 0,71 poin atau 0,01% ke level 5.900,76.

Bursa saham AS kemarin tertekan oleh saham kesehatan sebagai pedagang menguangkan keuntungan dari salah satu sektor berkinerja terbaik tahun ini. Proposal anggaran Presiden Donald Trump mengisyaratkan biaya peraturan yang lebih tinggi untuk sektor ini dan memotong dana federal untuk penelitian medis meskipun masih jauh dari kenyataan, mereka memberi pedagang alasan untuk menjual.

Sektor kesehatan di IndeksĀ  S & P 500 turun 0,9%. Sektor keuangan mengungguli dalam rebound setelah sektor tersebut menjadi sektor terburuk pada Rabu dan sebagai patokan catatan yield AS Treasury naik, sementara utilitas melemah.

Saham Biogen (BIIB.O) terbebani S & P 500, jatuh 4,7% menjadi USD278,96 setelah dua broker menurunkan peringkat saham. “Kesehatan sedang terseret oleh peralatan dan perlengkapan, bioteknologi, alat-alat dan jasa. Sektor-sektor ini sebenarnya telah dilakukan cukup baik tahun ke tahun. Jadi ini hanya kecepatan kecil,” kata Brian Jacobsen, kepala strategi portofolio di Wells Fargo Manajemen Dana di Menomonee Falls, Wisconsin.

“Ada dorongan dan tarikan dengan saham-saham sebagai reaksi Presiden yang telah berjanji untuk mempercepat (obat dan perangkat) proses persetujuan, tapi sekarang dia mengusulkan untuk memotong anggaran dari FDA, yang bisa membuat sulit untuk mendapatkan persetujuan dipercepat,” imbuhnya.

Saham Oracle (ORCL.N) melonjak ke rekor tinggi di level USD46,99 sebelum ditutup naik 6,2% pada level USD45,73, setelah membukukan laba kuartalan lebih baik dari yang diramalkan.

Saham Tyson Foods (TSN.N) tergelincir 1,7% menjadi USD62,00 di tengah berita bahwa bentuk flu burung yang sangat mematikan bagi unggas telah terinfeksi sebuah peternakan kedua yang memasok Tyson.

BI: Ekonomi Global Membaik Namun Perlu Banyak Waspada

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Tirta Segara menyampaikan, saat ini BI tengah mengamati pertumbuhan ekonomi dunia yang diperkirakan akan terus membaik. Meski demikian, BI meminta untuk tetap waspada oleh sejumlah resiko yang kemungkinan akan terjadi.

Saat ini, perekonomian global tetap tumbuh terutama didukung oleh perbaikan ekonomi negara maju dan negara-negara emerging market. “AS dan negara-negara emerging serta harga komoditas saat ini sedang meningkat. Ekonomi AS terus tumbuh didorong oleh konsumsi dan investasi, diikuti dengan ketenagakerjaan dan pendapatan yang membaik,” kata dia di Gedung BI, Jakarta, Kamis (16/3/2017).

Selain itu, lanjut Tirta, untuk harga komoditas dunia termasuk harga minyak dan komoditas ekspor Indonesia tetap meningkat. Namun seperti yang telah dijelaskan, sejumlah risiko global perlu terus diwaspadai.

“Termasuk yang kami cermati tekanan inflasi yang mulai meningkat di negara maju yang dapat memicu pengetatan kebijakan moneter di negara-negara tersebut,” ungkapnya.

Sementara itu, kenaikan Fed Fund Rate (FFR) lebih lanjut akan berpotensi mendorong penguatan mata uang AS dan meningkatkan cost of borrowing.

“Untuk Eropa, yang perlu kita cermati yakni permasalahan Brexit dan risiko geopolitik di sejumlah negara Eropa terkait menguatnya gelombang populisme serta risiko penyelesaian utang Yunani dapat meningkatkan ketidakpastian global,” pungkasnya.

Sumber : okezone.com