Wall Street berakhir lebih rendah

(FILES) In this file photo taken on May 23, 2019 traders work after the closing bell at the New York Stock Exchange (NYSE) on Wall Street in New York City. - All three of Wall Street's main indices popped to fresh records on July 12, 2019, ending the week on an emphatic note as investors grew increasingly confident the Federal Reserve will cut interest rates at the end of the month. (Photo by Johannes EISELE / AFP)RIFAN FINANCINDO – Wall Street sedikit lebih rendah pada penutupan perdagangan Selasa (Rabu pagi WB). Ketiga indeks utama gagal menyimpang jauh dari level yang tidak berubah setelah reli di sesi sebelumnya karena investor terus mencoba dan menilai rute inflasi.

Indeks Dow Jones Industrial Average terpangkas 81,52 poin atau 0,24 persen, menjadi menetap di 34.312,46 poin. Indeks S&P 500 tergerus 8,92 poin atau 0,21 persen, menjadi berakhir di 4.188,13 poin. Indeks Komposit Nasdaq turun 4,00 poin atau 0,03 persen, menjadi ditutup di 13.657,17 poin.

Saham enam dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir dengan di zona merah, dengan sektor energi dan utilitas merosot masing-masing 2,04 persen dan 1,18 persen, memimpin kerugian. Sementara itu, sektor consumer discretionary menguat 0,33 persen, merupakan kelompok dengan kinerja terbaik.

Imbal hasil obligasi AS bertenor lebih lama turun untuk hari keempat berturut-turut, dengan imbal hasil obligasi pemerintah AS 10-tahun yang menjadi acuan mencapai level terendah baru dua minggu di 1,557 persen dan membantu meredam kekhawatiran inflasi. Imbal hasil telah naik hingga 1,776 persen pada akhir Maret.

Para pejabat Federal Reserve mengesampingkan tekanan harga yang meningkat, dan Wakil Ketua Fed, Richard Clarida mengatakan bank sentral dapat mengambil langkah-langkah untuk meredakan lonjakan inflasi, jika itu terjadi, tanpa menggoyahkan rebound ekonomi akibat pandemi virus corona.

Meskipun sebagian besar pelaku pasar memperkirakan harga-harga meningkat seiring dengan pemulihan ekonomi, kekhawatiran tentang kecepatan dan lintasan kenaikan inflasi tetap ada.

“Mungkin pasar obligasi tidak terlalu jauh dari keseimbangan,” kata Jim Paulsen, kepala strategi investasi di The Leuthold Group di Minneapolis, yang mengatakan pasar obligasi tampaknya tidak terlalu mengkhawatirkan inflasi saat ini.

“Ini adalah kombinasi yang mungkin The Fed benar tetapi juga bahwa The Fed untuk pertama kalinya menunjukkan bahwa mereka mulai berbicara tentang tapering (pengurangan pembelian obligasi), yang juga merupakan tanda yang menghibur bahwa masih ada detak jantung yang memerangi inflasi di Federal Reserve.”

Exxon Mobil Corp jatuh 2,26 persen menjadi beban terbesar pada S&P 500, setelah sumber-sumber mengatakan BlackRock Inc telah mendukung beberapa kandidat hedge fund Engine No. 1 untuk bergabung dengan dewan direksi raksasa energi itu.

S&P 500 berada sekitar satu persen dari level tertinggi sepanjang masa 7 Mei karena fokus beralih ke laporan pengeluaran konsumsi pribadi AS, ukuran inflasi yang disukai Fed, yang akan dirilis pada Kamis (27/5/2021). Angka yang jauh lebih kuat dari perkiraan pada harga konsumen dua minggu lalu memicu kembali kekhawatiran inflasi dan memicu volatilitas pasar.

Saham-saham maskapai penerbangan, bagian dari perdagangan “pembukaan kembali” (ekonomi), naik setelah United Airlines dan Hawaiian Holdings mengeluarkan perkiraan lalu lintas udara yang optimis dan perkiraan penjualan tiket yang mengirim saham mereka naik 1,50 persen dan 3,59 persen.

Boeing terangkat 1,39 persen setelah perusahaan penyewaan pesawat SMBC Aviation Capital setuju untuk membeli 14 lagi jet 737 MAX.

Lordstown Motors Corp anjlokt 7,45 persen setelah startup kendaraan listrik itu mengatakan bahwa produksi truk Endurance pada 2021 akan menjadi setengah dari ekspektasi sebelumnya dan membutuhkan tambahan modal untuk melaksanakan rencananya.

 

Sumber : antaranews