Wall St beragam, indeks S&P turun

Bursa Wall StreetRIFAN FINANCINDO – Indeks-indeks utama Wall Street beragam pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB), dengan S&P 500 merosot ketika penurunan sektor perawatan kesehatan dan teknologi diimbangi oleh keuntungan energi dan keuangan, karena investor mempertimbangkan data ekonomi AS terbaru untuk tanda-tanda rebound dan kenaikan inflasi.

Indeks Dow Jones Industrial Average bertambah 45,86 poin atau 0,13 persen, menjadi ditutup pada 34.575,31 poin. Indeks S&P 500 turun 2,07 poin atau 0,05 persen, menjadi menetap di 4.202,04 poin. Indeks Komposit Nasdaq berkurang 12,26 poin atau 0,09 persen, menjadi ditutup di 13.736,48 poin.

Enam dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di zona hijau, dengan sektor energi melonjak 3,93 persen, memimpin kenaikan. Sementara itu, sektor perawatan kesehatan tergelincir 1,64 persen, merupakan kelompok dengan kinerja paling buruk.

Sektor keuangan S&P 500 mencapai rekor tertinggi, sementara perkiraan pertumbuhan permintaan bahan bakar mendorong harga minyak dan membantu mengangkat sektor energi 3,93 persen, kenaikan satu hari terbesar dalam hampir empat bulan.

Sektor teknologi jatuh, sementara sektor perawatan kesehatan terseret oleh perkiraan laba yang lemah dari Abbott Laboratories.

Data menunjukkan aktivitas manufaktur AS meningkat pada Mei karena permintaan yang terpendam dalam ekonomi yang dibuka kembali mendorong pesanan. Namun, pekerjaan yang belum selesai menumpuk karena kekurangan bahan baku dan tenaga kerja.

“Orang-orang kembali dari liburan akhir pekan dengan keyakinan bahwa ekonomi pulih dengan baik dan bahwa setiap inflasi yang mungkin kita lihat dalam tenaga kerja dan biaya lainnya bersifat sementara,” kata Peter Tuz, presiden Chase Investment Counsel di Charlottesville, Virginia, dikutip dari Reuters.

Seiring dengan kenaikan tajam untuk keuangan dan energi, indeks Russell 2000 berkapitalisasi kecil naik 1,1 persen pada Selasa (1/6/2021), menggarisbawahi kekuatan untuk segmen pasar saham yang diperkirakan akan berkembang dengan baik dalam ekonomi yang berkembang.

Sementara S&P 500 tetap kurang dari 1,0 persen dari rekor tertinggi setelah empat bulan berturut-turut naik, investor khawatir tentang apakah kenaikan inflasi dapat menekan harga-harga ekuitas.

“Kami memiliki masalah rantai pasokan, penundaan, kenaikan harga, tekanan harga secara umum, kami memiliki pengusaha yang mengatakan mereka mengalami kesulitan mencari tenaga kerja,” kata Kristina Hooper, kepala strategi pasar global di Invesco di New York.

“Jadi ini adalah mikrokosmos dari apa yang sudah kita dengar dan lihat dalam ekonomi secara keseluruhan dan ini hanya pengingat bahwa inflasi tetap menjadi perhatian.”

Pasar saham pada Jumat (28/5/2021) menepis lonjakan angka inflasi utama untuk April menyusul jaminan dari pejabat Federal Reserve bahwa kebijakan moneter ultra-longgar bank sentral akan tetap berlaku.

Presiden Bank Federal Reserve Minneapolis, Neel Kashkari dan Wakil Ketua Fed untuk pengawasan Randal Quarles pada Selasa (1/6/2021) menegaskan kembali pandangan bahwa harga yang lebih tinggi akan bersifat sementara.

Fokus minggu ini adalah pada sejumlah data ekonomi, yang berpuncak pada daftar gaji (payrolls) AS yang akan dirilis pada Jumat (4/6/2021).

Saham Abbott Labs anjlok 9,3 persen setelah perusahaan memangkas perkiraan laba setahun penuh 2021, mengutip ekspektasi penurunan tajam pendapatan dari tes COVID-19 karena lebih banyak orang Amerika yang divaksinasi. Saham pembuat tes lainnya juga jatuh.

 

Sumber : antaranews