Waktunya Rupiah Kembali Menguat

uang-edisi-khusus-kemerdekaan-ri-ke-75-tangkapan-layar-youtube-bank-indonesia_169RIFAN FINANCINDO – Pada perdagangan yang pendek pekan lalu, yang hanya 2 hari yakni Selasa dan Rabu, rupiah akhirnya menghentikan pelemahan 6 hari beruntun.

Pada perdagangan Rabu (19/8/2020), rupiah berhasil menguat 0,4% ke Rp 14.770/US$ tetapi masih membukukan pelemahan mingguan karena sehari sebelumnya melemah 0,75%.

Setelah libur panjang, rupiah punya modal untuk melanjutkan penguatan pada hari ini, Senin (24/8/2020). Defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) di kuartal II-2020 menyempit menjadi US$ 2,9 miliar atau setara 1,2% dari produk domestic bruto (PDB), dari kuartal sebelumnya 1,4% dari PDB.

Membaiknya defisit transaksi berjalan menjadi faktor yang begitu krusial dalam mendikte laju rupiah lantaran arus devisa yang mengalir dari pos ini cenderung lebih stabil.

Kemudian, Bank Indonesia (BI) pada pekan lalu sekali lagi memberikan sinyal suku bunga acuan tidak akan dipangkas lagi. Dengan demikian, imbal hasil investasi di dalam negeri masih relatif tinggi dan mampu menarik modal asing masuk.

Dua faktor tersebut menjadi modal bagi rupiah untuk kembali ke jalur penguatan.

Secara teknikal, meski rupiah yang disimbolkan USD/IDR menembus batas atas fase konsolidasi Rp 14.730/US$. Fase konsolidasi artinya suatu instrument bolak balik naik turun dalam rentang tertentu. Pada satu titik fase ini akan memicu “ledakan” alias pergerakan besar ketika batas atas atau bawah dilewati.

Dalam kasus USD/IDR, batas atas seperti yang disebutkan sebelumnya berada di level US$ 14.730/US$ yang merupakan Fibonnaci Retracement 61,8%.

FibonnaciRetracement tersebut ditarik dari level bawah 24 Januari (Rp 13.565/US$) lalu, hingga ke posisi tertinggi intraday 23 Maret (Rp 16.620/US$). Sementara batas bawah fase konsolidasi berada di level Rp 14.325/US$.

Jarak antara batas bawah hingga ke batas atas sebesar Rp 405, artinya target pergerakan rupiah setelah menembus salah satu batas sebesar Rp 405.

Sehingga, saat batas atas yang dilewati, maka rupiah berisiko melemah ke Rp 15.135/US$. Meski demikian, risiko tersebut akan batal secara teknikal jika rupiah kembali menguat ke bawah Rp 14.730/US$.

Sementara itu indikator stochastic sudah masuk ke wilayah jenuh beli (overbought).

Stochastic merupakan leading indicator, atau indikator yang mengawali pergerakan harga. Ketika Stochastic mencapai wilayah overbought (di atas 80) atau oversold (di bawah 20), maka suatu harga suatu instrumen berpeluang berbalik arah. Artinya ketika USD/IDR mencapai overbought, terbuka peluang penguatan.

Rupiah saat ini tepat berada di support Rp 14.770/US$, selama tertahan di atasnya rupiah berisiko melemah ke Rp 14.890/US$. Rupiah berisiko melemah ke Rp 14.930/US$ jika level tersebut juga ditembus.

Rupiah memiliki peluang untuk bangkit jika mampu menembus support tersebut dengan target ke Rp 14.730 hingga 14.700/US$.

 

Sumber : cnbcindonesia