UMKM Terdampak Pandemi

5f587af488cadRIFAN FINANCINDO – Usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) merupakan tulang punggung perekonomian Indonesia. Mereka adalah ujung tombak perputaran ekonomi dalam negeri.

Dikutip dari Kompas.com, Jumat (20/12/2019), UMKM menyumbang 60,34 persen dari total Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dan menyumbang 58,18 persen dari total investasi.

Terlebih di masa pandemi Covid-19, UMKM memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah situasi yang tak pasti.

Naasnya, UMKM juga menjadi kelompok yang rentan di tengah situasi pandemi. Tak sedikit UMKM jatuh tengkurap akibat badai ini. Misalnya saja, warung-warung kecil yang terpaksa tutup karena sepi pembeli.

Diberitakan Kompas.com, Selasa (28/7/2020), Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) mengonfirmasi dari 64,2 juta UMKM yang ada di Indonesia, sekitar 50 persen atau setara 30 juta UMKM harus tutup sementara akibat pandemi Covid-19.

Bahkan, berdasarkan data Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), bila pandemi tak kunjung usai, 85,42 persen UMKM hanya akan mampu bertahan selama satu tahun.

Sementara itu, pelaku UMKM yang masih bertahan juga tak luput dari ancaman kesehatan yang terus menghantui. Setiap hari, mereka melayani dan bertransaksi dengan banyak orang silih berganti. Kontak fisik tak bisa mereka hindari sehingga penularan virus rentan terjadi.

Tak tinggal diam, seperti diwartakan Kompas.com, Selasa (11/8/2020), pemerintah mengeluarkan beberapa kebijakan untuk menjaga sektor perekonomian, seperti program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dan percepatan penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi UMKM.

Bahkan, pemerintah telah mengalokasikan stimulus sebesar Rp 123,46 triliun khusus untuk UMKM.

Seiring program stimulus ekonomi, pemerintah juga sedang menyiapkan program Bantuan Sosial (Bansos) Produktif untuk percepatan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Bansos Produktif bertujuan meningkatkan daya tahan para pelaku UMKM yang belum memiliki akses perbankan.

Total bantuan yang akan digelontorkan sebesar Rp 28,8 triliun untuk 12 juta pelaku UMKM. Masing-masing pelaku UMKM akan mendapatkan dana hibah modal kerja sebesar Rp 2,4 juta tanpa bunga.

Dengan bantuan tersebut, UMKM diharapkan dapat terus berdaya dalam menggerakkan roda bisnisnya. Ketika mereka berdaya, kesejahteraan dan kesehatan mereka pun akan lebih terjamin.

Tak hanya pemerintah, pihak swasta turut memainkan peran besar dalam mendorong pelaku UMKM untuk kembali bangkit, kuat, dan mandiri. Sudah saatnya, perusahaan-perusahaan besar, turun tangan membantu bisnis-bisnis kecil menavigasi roda ekonomi dalam era Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) atau new normal.

Suntikan semangat untuk UMKM

Melalui semangat #MariBerbagiPeran, Unilever Indonesia turut berkontribusi dalam memberikan suntikan semangat kepada para pelaku UMKM agar kembali bangkit di tengah pandemi dan berkontribusi menuju Indonesia maju.

“Kami terus fokus pada komitmen untuk selalu bersama Indonesia. Tidak hanya dalam kemudahan, tapi juga dalam mengatasi tantangan,” kata Presiden Direktur PT Unilever Indonesia Tbk Hemant Bakshi dalam keterangan tertulis.

Komitmen tersebut diwujudkan Unilever Indonesia melalui dukungan senilai Rp 200 miliar untuk penanganan pandemi di Indonesia. Dukungan ini telah dan akan direalisasikan secara bertahap dalam berbagai bentuk, baik secara independen maupun melalui berbagai kemitraan.

Salah satu bentuk dukungan nyata yang diberikan, yakni melalui inisiatif #UnileverUntukIndonesia yang diluncurkan bertepatan dengan peringatan Hari UKM Nasional, Rabu (12/8/2020).

Melalui inisiatif itu, Unilever Indonesia memberikan bantuan senilai Rp 40 miliar kepada 147.000 pedagang warung.

Apalagi, angka penularan Covid-19 masih tinggi di beberapa daerah, khususnya pada tempat-tempat berkumpulnya banyak orang seperti pasar.

Untuk mendukung kesehatan dan keselamatan mereka, perusahaan fast moving consumer goods (FMCG) tersebut mendonasikan pelindung wajah, masker, hand sanitizer dan sabun cuci tangan Lifebuoy, serta Wipol Karbol kepada 147.000 pedagang warung.

Dalam kampanye #UnileverUntukIndonesia, perusahaan tersebut juga terus mendorong agar pedagang warung tetap berjualan.

Caranya, yakni dengan menyumbangkan keuntungan dari hasil transaksi kepada 147.000 pedagang warung tersebut selama tiga bulan. Sumbangan ini diberikan dalam bentuk e-coupon untuk tambahan modal usaha.

Tak hanya itu, agar para pedagang lebih maksimal dalam memanfaatkan perkembangan teknologi, Unilever Indonesia membekali mereka dengan aplikasi Sahabat Warung. Aplikasi digital ini diluncurkan untuk memudahkan para mitra warung dalam proses pemesanan barang, komunikasi, serta memangkas rantai distribusi.

Dengan begitu, pedagang tetap bisa menjaga jarak saat memesan suplai barang. Usaha warung pun bisa terus berjalan karena suplai selalu terjaga.

Keseluruhan dukungan bagi para pedagang warung diberikan agar mereka tetap sehat, selamat, dan tetap berjualan demi keberlangsungan usaha.

Unilever Indonesia percaya, bisnis harus berjalan berlandaskan tujuan mulia (purpose led) dan relevan dengan masa depan (future fit). Hal ini sesuai dengan visi perusahaan untuk tumbuh bersama-sama dengan semua bagian dari ekosistemnya.

Kampanye #UnileverUntukIndonesia melanjutkan berbagai inisiatif pemberdayaan UMKM yang dijalankan perusahaan tersebut di bawah payung “Selling with Purpose”. Ini merupakan sebuah program berkelanjutan yang didasari kepercayaan bahwa kesuksesan perusahaan berjalan seiring dengan kesuksesan para mitra UMKM.

Selama UMKM mampu bangkit dan berdaya, maka roda perekonomian akan terus berputar menyongsong kemajuan bangsa.

 

Sumber : kompas

Leave a Reply