Tunggu Rilis The Fed, Dolar Turun

7b00f9b3-7a44-49a8-88dd-0657a6cc036c_169RIFAN FINANCINDO – Pergerakan indeks dolar Amerika Serikat (AS) terpantau terus terkoreksi pada perdagangan awal pekan ini, Senin (18/11/2019), menantikan rilis risalah rapat kebijakan The Fed.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap sejumlah mata uang dunia, melandai 0,048 poin atau 0,05 persen ke level 97,951 pada pukul 08.36 WIB dari level penutupan perdagangan sebelumnya.

Pada perdagangan Jumat (15/11), indeks dolar AS ditutup di posisi 97,999 dengan pelemahan 0,164 poin atau 0,17 persen, penurunan hari kedua berturut-turut.

Koreksi indeks mulai berlanjut pada Senin (18/11) dengan dibuka turun tipis 0,02 persen atau 0,019 poin di level 97,980.

Dilansir dari Reuters, dolar AS bergerak dalam rentang yang sempit menantikan rilis risalah rapat kebijakan moneter Federal Reserve (FOMC meeting) pada Rabu (20/11).

Dalam risalah pertemuan kebijakan terkini yang berakhir pada 30 Oktober 2019, pejabat Federal Reserve kembali memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin untuk ketiga kalinya tahun ini dan mengisyaratkan jeda pemotongan lebih lanjut kecuali jika prospek ekonomi berubah.

Saat itu, FOMC mengutip implikasi perkembangan global dalam memutuskan untuk menurunkan kisaran target suku bunga acuan bank menjadi 1,5 persen-1,75 persen.

“Risalah rapat kemungkinan akan menegaskan bahwa ekonomi AS ‘solid’ dan bahwa pengaturan kebijakan moneter saat ini ‘tepat’, sehingga akan mendukung pergerakan dolar AS,” ujar Joseph Capurso, seorang analis mata uang di Commonwealth Bank of Australia.

Namun, ia mencatat bahwa laporan penjualan ritel AS untuk Oktober yang dirilis pada Jumat (15/11) menunjukkan kondisi konsumsi yang sebelumnya kuat kini tampak rentan.

“Setiap pelemahan lebih lanjut dalam konsumsi dapat menyebabkan evaluasi ulang atas prospeknya oleh FOMC. FOMC kemungkinan besar akan mulai menurunkan suku bunga lagi pada tahun 2020,” sambung Capurso.

Seiring dengan pergerakan dolar AS, sejumlah mata uang di Asia tampak bergerak variatif dengan dalam besaran yang sempit di tengah sikap hati-hati para pelaku pasar.

Pasar tengah menantikan apakah pemerintah Amerika Serikat dan China dapat segera menandatangani kesepakatan untuk mengakhiri perang dagang mereka yang telah membebani pertumbuhan ekonomi global selama lebih dari satu tahun terakhir.

Pada Minggu (17/11), media pemerintah China Xinhua mengatakan bahwa kedua negara melakukan “pembicaraan konstruktif” mengenai perdagangan melalui sambungan telepon pada Sabtu (16/11), tetapi tidak memberikan perincian lebih lanjut.

“Pergerakan mata uang akan didorong oleh berita utama yang terkait dengan masalah perdagangan AS-China. Pasar mengharapkan semacam jawaban untuk itu dalam waktu segera,” ujar Yukio Ishizuki, ahli strategi senior di Daiwa Securities.

 

Sumber : bisnis