Trump Borong 75 Juta Barel

presiden-as-donald-trumpRIFAN FINANCINDO – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengaku akan mengambil keuntungan dari penurunan harga minyak yang terjadi pada perdagangan Senin (20/4/2020).

Ia mengatakan akan membeli 75 juta barel untuk mengisi kembali cadangan strategis nasional negara itu.

“Kami sedang mengisi cadangan minyak bumi nasional kami … Anda tahu, cadangan strategis. Dan, kami ingin memasukkan sebanyak 75 juta barel ke dalam cadangan kami sendiri,” kata Trump pada konferensi pers harian di Gedung Putih dikutip dari AFP.

Trump sendiri memang sudah mengumumkan niat untuk mengisi cadangan minyak strategis (SPR) sampai penuh sejak 13 Maret. Di posisi 17 April, cadangan minyak AS sudah terisi 635 juta barel, dari batas saat ini sebanyak 713,5 juta barel.

Minyak disimpan di area bawah tanah di sepanjang Teluk Texas dan Louisiana, di selatan AS. Kapasitas maksimal SPR adalah 727 juta barel.

AS akan menggunakan cadangan ini dalam keadaan darurat. Seperti yang terjadi saat Perang Irak di tahun 1991 dan Badai Katrina di tahun 2005.

Sebelumnya, harga minyak mentah berjangka AS runtuh. Bahkan di bawah US$0 atau di teritori negatif pada Senin alias terendah sepanjang sejarah di NYMEX.

Pandemi corona (COVID-19) telah menyerang emas hitam. Penyebaran virus telah membuat aktivitas manusia berhenti dan menyebabkan melimpahnya pasokan.

Padahal, batas penjualan akan jatuh di Selasa (21/4/2020). Ini membuat kontrak West Texas Intermediate (WTI) untuk Mei turun dan sempat menyentuh -US$ 40,32 per barel sebelum akhirnya berakhir diperdagangkan pada -US$ 37,63.

Sementara kontrak WTI untuk Juni diperdagangkan di US$ 22 per barel. Meski tak semerosot penjualan Mei, harga masih sangat rendah.

“Ini kontrak untuk sesuatu yang tidak ingin dibeli siapapun,” kata Matt Smith, pengamat dari ClipperData sebagaimana dikutip dari AFP.

Selain karena corona, ini juga konsekuensi dari perang minyak Arab Saudi dan Rusia yang terjadi pada akhir Maret lalu. Meski sudah diputuskan akan ada pemangkasan oleh OPEC+ sekitar 10 juta barel per hari (bph) di Mei hingga Juni, keputusan dianggap telat oleh pelaku pasar.

Sementara patokan internasional Brent juga mengalami penurunan. Tapi beda dengan WTI, Brent masih positif karena penyerapan di dunia lebih banyak.

 

Sumber : cnbcindonesia