0

Transaksi Berjalan RI Diramal Surplus

ilustrasi-rupiah-dan-dolar-cnbc-indonesiaandrean-kristianto-4_169RIFAN FINANCINDO – Rupiah mampu menguat 0,11% melawan dolar Amerika Serikat (AS) ke Rp 14.225/US$ kemarin. Rupiah berpeluang melanjutkan penguatan pada perdagangan Jumat (18/11), melihat ada beberapa kabar baik.

Kemarin, Bank Indonesia (BI) menjadi perhatian. Sesuai dengan prediksi, BI mempertahankan suku bunga acuannya BI 7 Day Reverse Repo Rate sebesar 3,5%, suku bunga Deposit Facility sebesar 2,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 4,25%.

BI juga memperkirakan nilai tukar rupiah punya ruang untuk terus menguat. Soalnya, mata uang Ibu Pertiwi punya fundamental yang kokoh.

“Secara fundamental, semua faktor mendukung pergerakan nilai tukar rupiah yang stabil bahkan apresiasi. Satu, defisit transaksi berjalan tetap rendah. Dua prospek ekonomi yang membaik. Tiga perbedaan yield (imbal hasil) Surat Berharga Negara dan US Treasury Bonds tetap menarik,” papar Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia (BI), dalam jumpa pers usai Rapat Dewan Gubernur (RDG) edisi November 2021, Kamis (18/11/2021).

Sementara itu indeks dolar AS yang kembali terkoreksi pada perdagangan Kamis kemarin menjadi kabar baik bagi rupiah hari ini. Indeks yang mengukur kekuatan dolar AS tersebut kemarin melemah 0,31% ke 95,533.

Selain itu, BI hari ini akan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI). Transaksi berjalan (current account) akan menjadi perhatian pelaku pasar, sebab BI memperkirakan akan kembali surplus. Hal tersebut disebabkan neraca perdagangan yang terus mencetak hasil positif.

Transaksi berjalan yang surplus bisa berdampak positif ke rupiah.

Secara teknikal, belum ada level-level yang harus diperhatikan. Rupiah masih dalam tekanan sebab berada di atas rerata pergerakan 50 hari (moving average 50/MA 50) di kisaran Rp 14.220/US$.

Level tersebut bisa menjadi kunci pergerakan rupiah hari ini.

Selain itu indikator Stochastic pada grafik harian bergerak turun dan semakin mendekati wilayah jenuh jual (oversold).

Stochastic merupakan leading indicator, atau indikator yang mengawali pergerakan harga. Ketika Stochastic mencapai wilayah overbought (di atas 80) atau oversold (di bawah 20), maka harga suatu instrumen berpeluang berbalik arah.

Ketika USD/IDR mencapai oversold, maka kemungkinan akan berbalik naik, artinya risiko pelemahan rupiah semakin besar.

Seperti disebutkan sebelumnya, area MA 50 bisa menjadi kunci pergerakan. Jika tertahan di atasnya rupiah berisiko melemah ke Rp 14.280/US$ hingga Rp 14.300/US$.

Sementara itu jika kembali ke bawah MA 50 rupiah berpeluang menguat ke Rp 14.200/US$ hingga Rp 14.180/US$.

Sumber : cnbcindonesia

rifan financindo

Leave a Reply