Tips Menghindari Investasi Bodong

1146074ThinkstockPhotos-101420365780x390RIFAN FINANCINDO – Baru-baru ini OJK merilis daftar investasi bodong. Sebagai masyarakat yang hendak terjun ke dunia investasi, tentu harus bisa membedakan mana yang bodong atau tidak.

Menurut Perencana Keuangan Finansialku, Rizqi Syam, CFP®, penting untuk kamu mengecek lembaga investasi ini sudah punya izin dan terdaftar di OJK atau belum.

“Biasanya kalau perusahaan investasi bodong, tidak terdaftar di OJK,” katanya.

Bahkan, OJK selalu memblokir perusahaan investasi yang tidak berizin. Kamu bisa cek di laman resmi OJK untuk melihat daftar perusahaan bodong untuk lebih detail.

Berikut tips dari Rizqi agar kamu tidak tertipu oleh berbagai investasi bodong:

1. Lihat daftar perusahaan di laman OJK

Sebelum memantapkan hati untuk berinvestasi, penting untuk mengetahui fakta dasarnya termasuk informasi lembaganya.

Perusahaan investasi yang aman, tentu saja akan terdaftar di OJK. Hal itu bisa kamu ketahui lewat laman resmi OJK.

“Perusahaan yang sehat pasti memiliki aset dasar yang jelas, bisa berupa portofolio efek seperti obligasi atau saham,” ucap Rizqi.

Jika perusahaan investasi tidak memberikan kejelasan tentang pengelolaan uang yang kita berikan, maka perusahaan tersebut wajib kita curigai.

Rizqi mengutarakan, masyarakat yang banyak terjerat investasi bodong karena tidak tahu cara memfilter informasi penting ini.

2. Pilih jenis investasi yang tepat

Ketika kamu memutuskan berinvestasi, Rizqi berpesan untuk punya tujuan keuangannya terlebih dahulu.

“Banyak yang sudah mulai berinvestasi tanpa disadari oleh tujuan yang jelas,” ungkapnya.

Tujuan utama berinvestasi adalah mencapai tujuan keuangan. Tentu, kalau ingin kaya pasti dari pekerjaan atau bisnis yang kamu miliki, bukan dari investasi.

Kata Rizqi, Berinvestasi fungsinya untuk memiliki tingkat “kecukupan” dalam keuangan. Setiap orang tentu memiliki level “cukup” yang berbeda.

“Maka dari itu, coba dipikirkan kembali bagaimana hidup cukup yang kamu inginkan,” jelasnya.

Perjalanan seorang investor juga tidak bisa langsung cuan. Harus banyak belajar agar cepat dewasa dalam berinvestasi.

Menurut dia, setiap usia, latar belakang, pekerjaan, dan kedewasaan berinvestasi akan sangat menentukan produk yang kamu pakai.

Rizqi menyarankan untuk konsultasi dengan perencana keuangan dahulu untuk tahu posisi kamu dalam berinvestasi saat ini, “Juga, untuk tahu produk mana yang tepat demi mencapai tujuan keuangan,” ucap dia.

3. Harus siap dengan segala risiko

Investasi memang memiliki banyak risiko, dan kamu harus siap akan itu. Ungkapnya, investasi bisa dikatakan tidak stabil bila sudah keluar dari perencanaan yang telah kamu tentukan.

“Tidak stabil erat kaitannya dengan saham atau obligasi yang dimiliki,” katanya.

Sehingga, pentingnya punya tujuan keuangan adalah kamu jadi tidak panik dalam mengambil keputusan keuangan di kala investasi yang tidak stabil.

Misalnya, jika tujuan jangka panjang kamu adalah untuk hari tua dengan menabung saham, mungkin ketika pasar saham dan obligasi nilainya turun pada tahun 2020, kamu akan bahagia karena diberikan harga diskon yang sangat besar.

Berbeda cerita bila tujuan keuangannya untuk membeli rumah pada tahun 2020, mungkin kamu akan panik karena portofoliomu terkena imbasnya.

Maka, penting untuk belajar hal detail dari produk invesatasi yang dimiliki. “Agar mengerti sebelum mengeksekusi,” tegas Rizqi.

Jelasnya, jika tujuan keuangan sudah semakin dekat, disarankan untuk pindah portofolio investasi ke produk yang relatif lebih kecil risikonya.

Dalam produk investasi selalu ada risiko dan volatilitas, “Yang penting bagaimana kita bereaksi dan menyiapkan rencana di setiap momentum,” tutupnya.

 

Sumber: kompas