Tips Memulai Investasi Kripto

ilustrasi-handphone_169RIFAN FINANCINDO  – Investasi pada aset kripto rasa-rasanya semakin seksi saat ini. Sebagian masyarakat yang sudah berani ‘nyemplung’ di kripto sejak 2017, khususnya bitcoin mungkin sudah meraup untung lebih dari 100 persen sekarang.

Maklum, harga bitcoin empat tahun lalu masih di level US$20 ribu per keping. Sekarang? Harganya sudah tembus US$67 ribu per keping.

Jika dilihat, harga bitcoin masih berada dalam tren kenaikan saat ini. Meski terkadang juga tergelincir di zona merah seperti instrumen investasi lain.

Mengutip coinmarketcap.com, Selasa (9/11), harga bitcoin naik 3,75 persen dalam 24 jam terakhir ke level US$67.919 per keping.

Bitcoin sendiri bukan satu-satunya uang kripto. Ada ethereum, binance coin, cardano, solana, tether, xrp, polkadot, dogecoin, usd coin, dan beberapa jenis kripto lain yang bisa menjadi instrumen investasi.

Mayoritas uang kripto yang masuk dalam 10 kapitalisasi terbesar bergerak menguat dalam 24 jam terakhir pada Selasa (9/11). Jika dirinci, ethereum naik 1,9 persen ke level US$4.808 per keping, binance coin naik 1,01 persen ke level US$648 per keping, cardano naik 14,87 persen ke level US$2,32 per keping, dan solana naik 1 persen ke level US$245 per keping.

Begitu juga dengan xrp yang naik 0,7 persen ke level US$1,25 per keping, dogecoin naik 1,03 persen ke level US$0,27 per keping, dan usd coin naik 0,02 persen ke level US$1 per keping. Sementara, tethter bergerak stagnan dan polkadot terkoreksi 1,1 persen ke level US$52,02 per keping.

Uang kripto sendiri masih dilarang sebagai alat bayar di Indonesia. Namun, kripto termasuk komoditas bursa berjangka, sehingga tak masalah selama digunakan sebagai investasi maupun komoditas yang diperjualbelikan oleh para pelaku pasar.

Uang kripto diatur oleh Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan lewat Peraturan Bappebti No 2 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Pasar Fisik Komoditi di Bursa Berjangka.

Pergerakan harga uang kripto ini cukup memikat sebagian masyarakat yang ingin coba-coba dalam berinvestasi. Lantas, bagaimana cara membeli uang kripto?

1. Cari Platform

Pendiri sekaligus Chief Executive Officer (CEO) Bitocto Milken Jonathan mengatakan masyarakat yang tertarik bisa mulai dengan mencari platform yang memperdagangkan uang kripto secara legal dan sudah terdaftar di Bappebti.

Bitocto adalah salah satu platform yang terdaftar di Bappebti.

“Cara mulai investasi aset kripto tidak sulit. Gunakan platform yang sudah legal dan terdaftar di Bappebti,” ungkap Milken kepada CNNIndonesia.com, Selasa (9/11).

Menurut Milken, platform yang memperdagangkan aset kripto dapat disebut juga sebagai bursa. Pasalnya, platform itu menjalankan fungsi sebagai bursa hingga kliring.

“Pada dasarnya crypto exchange platform sudah melakukan semua fungsi bursa, kliring, dan lain-lain,” terang Milken.

Sama dengan Milken, CEO Indodax Oscar Darmawan mengatakan masyarakat yang berminat berinvestasi di aset kripto perlu mencari platform yang legal dan terdaftar di Bappebti. Setelah memilih, masyarakat bisa mengunduh aplikasi di App Store atau Playstore.

Sebagai gambaran, jika masyarakat memilih Indodax sebagai platform dalam berinvestasi uang kripto, maka masyarakat bisa langsung melakukan registrasi usai mengunduh aplikasi di ponsel masing-masing.

“Setelah menyelesaikan rangkaian alur pendaftaran, pemula bisa membuka inbox e-mail untuk melakukan verifikasi,” kata Oscar.

Kemudian, masyarakat dapat membuka kembali laman Indodax. Lalu, masuk menggunakan e-mail dan passwrod yang sudah didaftarkan.

“Setelahnya, pemula akan melakukan otentikasi dua arah. Setelah melakukan otentikasi dua arah, pemula sudah resmi menjadi member Indodax dan bisa mulai bertransaksi,” jelas Oscar.

Ia menyebut masyarakat dapat mulai investasi di Indodax dengan modal Rp10 ribu.

Beberapa platform legal dan terdaftar di Bappebti, antara lain PT Indodax Nasional Indonesia (Indodax), PT Wahyucipta Mandirikarya (Bitocto), PT Crypto Indonesia Berkat (Tokocrypto), PT Zipmex Exchange Indonesia (Zipmex), PT Indonesia Digital Exchange (Idex), PT Pintu Kemaja Saja (Pintu), dan PT Luno Indonesia LTD (Luno).

Kemudian, PT Cipta Koin Digital (Koinku), PT Tiga Inti Utama (Triv), dan PT Upbit Exchange Indonesia (Upbit Indonesia), dan PT Rekeningku Dotcom Indonesia (Rekeningku).

2. Belajar

Oscar mengingatkan agar masyarakat tak lupa belajar hal-hal seputar uang kripto. Masyarakat, kata Oscar, dapat mengunjungi laman resmi Indodax Academy sebagai salah satu tempat belajar kripto.

“Di sana kami sudah menyediakan artikel informatif yang bisa dipakai untuk investor, baik pemula atau investor lama untuk belajar,” ujar Osxar.

Selain soal kripto, masyarakat juga harus belajar sabar. Selain itu, jangan panik ketika aset yang dimiliki sedang jeblok.

“Karena aset kripto ini volatilitasnya tinggi. Naik turun harga koin memang hal yang sudah lumrah dan pasti terjadi,” terang Oscar.

3. Uang Dingin

Oscar juga mengingatkan agar masyarakat menggunakan ‘uang dingin’ dalam berinvestasi kripto. Hal ini berarti masyarakat bisa menggunakan dana yang diperkirakan tak dipakai dalam jangka pendek.

Dengan demikian, dana yang diinvestasikan pada aset kripto tak akan mengganggu arus kas (cashflow).

4. Blue Chip

Sementara, Milken mengatakan masyarakat sebaiknya memilih aset kripto blue chip, seperti bitcoin dan ethereum.

Blue chip artinya pergerakan harganya lebih stabil dibandingkan yang lain. Kalau turun atau naik, pergerakannya tak akan signifikan.

Menurut Milken, aset kripto bisa disebut blue chip atau non blue chip terlihat dari nilai kapitalisasi pasar, nilai perdagangan, likuiditas, dan seberapa banyak platform yang memperdagangkan uang kripto tersebut.

“Definisi blue chip dari perspektif saya hanya dua, yaitu bitcoin dan ethereum saja, karena dari nomor tiga ke bawah sudah mulai sering naik turun ranking by market capitalization nya,” papar Milken.

Senada, Oscar mengatakan aset kripto yang bagus adalah aset yang punya likuiditas tinggi. Hal ini ditandai dengan volume perdagangan yang besar dan diperdagangkan oleh banyak platform dan memiliki anggota komunitas yang besar.

“Sudah sewajarnya jika aset kripto dengan kriteria yang bagus seperti demikian harganya pasti akan terus naik dan menguntungkan para trader,” jelas Oscar.

Namun, jika masyarakat melakukan perdagangan jangka pendek, aset kripto yang paling menguntungkan adalah jenis aset kripto utilitas.

“Karena pada umumnya mereka (aset kripto jenis utilitas) mempunyai volatilitas harga yang tinggi, sehingga dapat dimanfaatkan trader untuk melakukan aksi jual dan beli,” ujar Oscar.

Meski begitu, Oscar menyebut aset utilitas juga bisa digunakan untuk investasi jangka panjang. Salah satunya bitcoin.

Kemudian, jika mencari aset kripto dengan harga stabil, Oscar menyebut masyarakat bisa memilih tether. Harga dari kripto itu bergantung dengan pergerakan harga emas, perak, dolar AS.

“Aset kripto jenis ini juga menguntungkan trader jika digunakan sebagai alat penyimpan nilai dikarenakan harganya yang cenderung stabil,” kata Oscar.

5. Beli saat Harga Anjlok

Oscar mengatakan masyarakat dapat memanfaatkan momentum dengan beli di harga murah ketika uang kripto sedang ‘kebakaran’ alias jeblok. Sebab, pada dasarnya, investasi adalah membeli sesuatu saat harga sedang murah-murahnya dan menjual ketika harga mahal.

“Ketika aset kripto sedang melemah seperti beberapa waktu lalu, sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan aset kripto,” tutur Oscar.

Ketika beli di harga murah, masyarakat bisa menyimpan aset itu hingga harganya naik. Dengan demikian, masyarakat akan mendapatkan keuntungan berlipat-lipat jika kenaikannya signifikan.

“Seperti pada beberapa bulan lalu, bitcoin sempat menembus all time high-nya di US$60 ribu per keping,” jelas Oscar.

Sementara, Milken memprediksi aset kripto bergerak di zona hijau sepanjang November 2021. Hal ini seperti yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.

Meski begitu, ia mengingatkan masyarakat agar benar-benar disiplin dalam berinvestasi kripto di tengah tren kenaikan ini. Jangan sampai, kata Milken, masyarakat berlaku FOMO (fear of missing out) atau takut ketinggalan tren.

“Tetap objektif untuk mengambil keuntungan, karena sangat mudah untuk terbawa arus dan target yang tidak realistis,” ujar Milken.

Jika masyarakat berlaku FOMO, maka bukan tak mungkin portofolio yang sebelumnya positif berbalik arah menjadi minus ketika tren harga mulai melemah.

“Untuk yang sudah masuk di harga yang lebih murah pada bulan-bulan sebelumnya bisa mengambil sebagian keuntungan sampai modal sudah kembali dan membiarkan sisanya untuk mengikuti tren kuat bulan ini (November),” kata Milken.

Ia menambahkan bahwa masyarakat dapat menggunakan analisa teknikal untuk melihat pola pergerakan harga dan meminimalisir risiko. Untuk tahu analisa teknikal, masyarakat dapat belajar dari berbagai sumber secara daring.

“Untuk teknikal secara umum banyak resources online, seperti investing, investopedia, video belajar teknikal di Youtube dan lain sebagainnya,” tutup Milken.

Sumber : cnnindonesia

rifan financindo