Tax Amnesty Bakal Bikin Rupiah Semakin Kuat

RIFAN FINANCINDORIFAN FINANCINDO – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, diperkirakan melanjutkan tren apresiasi. Terdorong adanya sentimen positif dari pemberlakuan kebijakan pengampunan pajak (tax amnesty) yang dibarengi tren depresiasi pada dolar index.

“Adanya, sentimen tax amnesty diharapkan dapat terus melanjutkan penguatan rupiah dalam jangka panjang dengan range batas atas Rp13.192 dan batas bawah di level Rp13.107,” kata analis PT NH Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada di Jakarta, Rabu 29 Juni 2016.

Menurutnya, pengesahaan RUU Pengampunan Pajak menjadi UU telah menjadi angin segar bagi pergerakan rupiah. Sebab, lanjut dia, ada peluang dana repatriasi hingga Rp1.000 triliun berpotensi masuk ke Indonesia.

“Keadaan ini sangat direspons positif oleh para pelaku pasar, sehingga mampu mematahkan tren penguatan dolar AS terhadap rupiah,” tuturnya.

Di sisi lain, Reza melanjutkan, pelemahan dolar index sekitar 0,42 persen telah mendorong rupiah ke jalur apresiasi yang berada di posisi terkuat dalam empat bulan terakhir.

“Sebelumnya kami sampaikan, rupiah mampu menguat di tengah pergerakan variatif mata uang ASEAN lainnya,” ujarnya.

Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), Bank Indonesia, pada penutupan perdagangan kemarin, rupiah dipatok Rp13.256 per dolar AS. Menguat dari perdagangan hari sebelumnya, Senin 27 Juni 2016, yang dipatok Rp13.495 per dolar AS. (asp)

Rifan Financindo Solo

PT Rifan Financindo

PT Rifan Financindo

Disclaimer: Semua informasi yang terdapat dalam website kami ini hanya bersifat informasi saja. Kami berusaha menyajikan berita terbaik, namun demikian kami tidak menjamin keakuratan dan kelengkapan dari semua informasi atau analisa yang tersedia. Kami tidak bertanggung jawab terhadap semua kerugian baik langsung maupun tidak langsung yang dialami oleh pembaca atau pihak lain akibat menggunakan informasi dari website kami ini. Kami berhak mengatur dan menyunting isi saran atau tanggapan dari pembaca atau pengguna agar tidak merugikan orang lain, lembaga, ataupun badan tertentu serta menolak isi berbau pornografi atau menyinggung sentimen suku, agama dan ras.