Suramnya Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi RI

1849317shutterstock-25123522780x390RIFAN FINANCINDO – Pandemi virus corona (Covid-19) telah membawa perekonomian dunia ke jurang resesi. Bank lembaga di dunia memproyeksi, pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini akan mengalami kontraksi atau tumbuh negatif.

Dana Moneter Internasional (IMF) pun sempat memberi pernyataan mengenai perekonomian dunia yang diprediksi akan mengalami krisis keuangan terburuk sejak Depresi Besar tahun 1930-an.

Tahun ini, perekonomian dunia diproyeksi bakal mengalami kontraksi hingga 3 persen pada 2020.

Indonesia pun tidak terlepas dari proyeksi suram tersebut. Banyak lembaga di dunia telah merevisi prediksi pertumbuhan ekonomi yang pada awal tahun masih diwarnai sentimen positif, kini menjadi muram lantaran pandemi.

Pemerintah sendiri memprediksi kinerja perekonomian hingga akhir tahun diproyeksi akan tumbuh di kisaran minus 0,4 persen hingga 1 persen.

Angka tersebut jauh lebih rendah dari proyeksi perekonomian skenario berat yang sebelumnya sempat disebutkan, di mana perekonomian masih bisa tumbuh 2,3 persen hingga akhir tahun.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjelaskan, penurunan batas proyeksi pertumbuhan ekonomi hingga akhir tahun menjadi 1 persen dilakukan dengan pertimbangan kontraksi akan terjadi cukup dalam pada kuartal II tahun ini.

“Outlook proyeksi -0,4 persen ke 1 persen. Untuk batas atas kami turunkan 2,3 persen ke 1 persen, revisi agak turun karena kami melihat kontraksi cukup dalam di kuartal kedua,” jelas Sri Mulyani ketika melakukan rapat kerja dengan Badan Anggaran DPR RI, Kamis (18/6/2020).

Adapun berikut gambaran muramnya perekonomian RI hingga akhir tahun menurut lembaga-lembaga dunia.

1. Dana Moneter Internasional (IMF)

Menurut IMF, Indonesia bakal mengalami kontraksi atau tumbuh negatif 0,3 persen pada tahun ini. Prediksi terhadap ekonomi Indonesia ini memburuk dibandingkan proyeksi pada April 2020.

Saat itu, IMF masih memproyeksikan pertumbuhan positif pada tahun ini, yakni di level 0,5 persen.

Artinya, terjadi penurunan 0,8 poin persentase dengan jeda hanya dua bulan. Namun demikian, tahun depan kondisi perekonomian RI diproyeksi akan membaik dan tumbuh 6,1 persen.

Meski, angka tersebut lebih rendah 2,1 poin persentase jika dibandingkan dengan proyeksi IMF April lalu.

Adapun secara keseluruhan, untuk negara berkembang IMF memprediksi pertumbuhan PDB diproyeksi akan mengalami kontraksi 3 persen tahun ini. Lebih rendah 2 poin persentase jika dibandingkan dengan proyeksi April 2020.

2. OECD

Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) memroyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami kontraksi atau minus 2,8 persen hingga 3,9 persen.

Angka tersebut jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan skenario pemerintah yang memerkirakan pertumbuhan ekonomi tumbuh negatif 0,4 persen hingga 1 persen.

Kepala Ekonom OECD Laurence Boone memaparkan, pada outlook kali ini OECD menggunakan dua skenario, tergantung pada penanganan pandemi Covid-19 oleh pemerintah Indonesia.

Untuk skenario pertama, Indonesia hanya mengalami pukulan Covid-19 sebanyak satu kali dan bisa menghindari gelombang kedua penularan virus corona.

Pertumbuhan ekonomi untuk skenario pertama diperkirakan sebesar -2,8 persen dengan konsumsi rumah tangga atau swasta mengalami kontraksi sebesar 3,1 persen.

“PDB tumbuh melambat pada kuartal pertama tahun 2020, terbebani oleh konsumsi rumah tangga dan investasi yang lemah,” jelas Boone dalam laporan OECD yang diterima Kompas.com, Kamis (11/6/2020).

Adapun untuk skenario kedua, jika gelombang kedua terjadi di Indonesia maka perekonomian akan mengalami kontraksi hingga 3,9 persen.

Dengan demikian, kinerja ekspor dan impor pun mengalami tekanan yang lebih besar. Laju ekspor diperkirakan bakal mengalami kontraksi sebesar 7,4 persen dan laju impor tertekan hingga 9,1 persen.

Untuk tahun depan, OECD memprediksi laju pertumbuhan ekonomi akan membaik. Perekonomian Indonesia diperkirakan bakal tumbuh di kisaran 2,6 hingga 5,2 persen pada 2021.

3. Bank Dunia

Bank Dunia memproyeksikan, perekonomian Indonesia tak tumbuh atau stagnan di level 0 persen. Angka tersebut jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan realisasi pertumbuhan ekonomi tahun lalu yang mencapai 5,02 persen.

Ekonom Senior Bank Dunia untuk Indonesia Ralph Van Doorn pun menjelaskan, tertekannya kinerja perekonomian disebabkan oleh pembatasan sosial bersaka besar (PSBB) yang berlaku sepanjang April dan Mei.

Dia pun mengatakan, jika PSBB berlangsung lebih lama, yaitu di kisaran empat bulan, pertumbuhan ekonomi RI bisa lebih tertekan lagi, yaitu tumbuh negatif hingga 3,5 persen.

“Anjloknya pertumbuhan ekonomi RI terjadi akibat perlambatan konsumsi rumah tangga karena banyaknya masyarakat yang kehilangan pekerjaannya atau menjadi korban dirumahkan dan PHK. Serta akibat minimnya kegiatan ekonomi dan menurunnya kepercayaan konsumen,” jelas Doorn dalam video conference, Kamis (2/6/2020).

 

Sumber : kompas