Suku Bunga Dipangkas, IHSG Diprediksi Perkasa

RIFAN FINANCINDORIFANFINANCINDO – ┬áIndeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi bergerak menguat pada awal pekan ini, Senin (25/9), ditopang oleh penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) sebesar 25 basis poin menjadi 4,25 persen.

Kepala Riset MNC Sekuritas Edwin Sebayang menilai, keputusan BI tersebut akan berimbas pada berbagai sektor usaha selain perbankan, yakni properti dan barang konsumsi. Pasalnya, perbankan bakal semakin terdorong untuk menurunkan suku bunga kreditnya.

“Jadi isu utama masih euforia penurunan suku bunga acuan. Diharapkan penurunan suku bunga acuan dorong juga sektor properti dan barang konsumsi. Sekarang dua sektor itu memang sudah mulai menguat,” papar Edwin kepada CNNIndonesia.com, dikutip Senin (25/9).

Selain dari dalam negeri, IHSG juga dipengaruhi sentimen global berupa sinyal positif dari Bank Sentral Amerika Serikat (AS) yang kemungkinan besar menahan tingkat suku bunga The Fed hingga akhir tahun.

Sayangnya, harga komoditas diprediksi masih berfluktuasi pada pekan ini. Menurut Edwin, beberapa harga komoditas sempat jatuh pada pekan lalu, seperti minyak mentah, emas, dan batu bara.

“Minyak masih di sekitar level US$50 per barel, emas jatuh karena Dow Jones kuat,” tutur Edwin.

Namun demikian, ia tetap optimistis IHSG bisa melanjutkan kenaikannya karena sentimen dari turunnya suku bunga acuan BI terbilang kuat.

Ia memprediksi, IHSG bergerak dalam rentang support 5.890 dan resistance 5.930 pada hari ini. Sementara, untuk sepanjang pekan IHSG diperkirakan berada dalam rentang support 5.850 dan resistance 5.950.

Senada, analis Indosurya Sekuritas William Surya Wijaya mengatakan, kebijakan BI dapat mempercepat laju perekonomian secara keseluruhan, khususnya untuk sektor riil. Selain itu, William juga menilai Indonesia masih menjadi tujuan dari investor dari dalam dan luar negeri.

“Bahkan hingga memasuki awal pekan dari minggu terakhir bulan ini masih terihat IHSG begitu kokoh bertahan mencatatkan pertumbuhan yang cukup menarik,” terang William.

Kondisi tersebut, jelas William, tidak lepas dari peran pemerintah yang mengeluarkan berbagai kebijakan dalam menghadapi gejolak perekonomian dalam negeri. Untuk itu, ia memproyeksi, IHSG bergerak menguat dalam rentang support 5.813 dan resistance 5.945.

Sepanjang pekan lalu, IHSG ditutup di level 5.911 atau menguat 0,67 persen dari pekan sebelumnya di level 5.872. Sementara, mayoritas indeks sektoral bergerak melemah, khususnya sektor infrastruktur. Sektor perbankan memimpin laju indeks sektoral dengan kenaikan 2,73 persen.

Hal yang berbeda terjadi pada bursa saham Wall Street yang bergerak bervariasi pada akhir pekan lalu. Dari tiga indeks utamanya, hanya S&P500 dan Nasdaq yang menguat masing-masing sebesar 0,06 persen dan 0,07 persen. Sementara, indeks Dow Jones melemah 0,04 persen. ( cnnindonesia.com )