S&P 500 ke level tertinggi sepanjang masa

906274182pRIFAN FINANCINDO – Wall Street tampil perkasa dengan tiga indeks utama ditutup menguat. Bahkan indeks S&P 500 cetak rekor penutupan tertinggi yang sebelumnya terjadi pada 7 Mei silam.

Katalis utama bagi pergerakan bursa saham Amerika Serikat (AS) datang karena data ekonomi mendukung pernyataan Federal Reserve bahwa gelombang peningkatan inflasi hanya bersifat sementara.

Kamis (10/6), indeks Dow Jones Industrial Average ditutup naik tipis 0,06% menjadi 34.466,24, indeks S&P 500 menguat 0,47% ke 4.239,18 dan indeks Nasdaq Composite melesat 0,78% ke level 14.020,33.

Di antara 11 sektor utama S&P 500, sektor kesehatan menikmati persentase kenaikan terbesar.

Tetapi sektor keuangan yang sensitif terhadap suku bunga turun paling banyak, setelah koreksi 1,1% karena pelonggaran yield US Treasury yang membebani sektor ini.

Pada perdagangan ini, saham megacap terkemuka di pasar menempatkan Nasdaq sebagai indeks dengan penguatan terbesar. Tetapi saham sektor transportasi dan smallcaps yang sensitif secara ekonomi mengakhiri sesi di wilayah negatif.

Data indeks harga konsumen (CPI) yang dirilis Departemen Tenaga Kerja AS berada di atas konsensus dan menambah perdebatan tentang apakah lonjakan harga saat ini dapat berubah menjadi inflasi jangka panjang, meskipun ada jaminan dari The Fed.

Tetapi pengamatan lebih dekat menunjukkan, sebagian besar lonjakan harga berasal dari barang-barang seperti komoditas dan tiket pesawat, dan oleh karena itu cenderung bersifat sementara.

“Awal minggu ini kami mengalami hari-hari pasar yang sangat membosankan karena kami semua memperhatikan laporan CPI ini,” kata Ryan Detrick, Senior Market Strategist LPL Financial di Charlotte, North Carolina.

“Tetapi begitu orang melihat ke bawah permukaan, di mana sebagian besar inflasi yang lebih tinggi disebabkan oleh pembukaan kembali, dan saham mengalami reli yang melegakan. Pasar mengambilnya dengan tenang karena menyadari seluruh ekonomi tidak terlalu panas,” tambah Detrick.

Sementara itu, komite DPR AS mengesahkan RUU pengeluaran infrastruktur senilai US$ 547 miliar yang menargetkan transportasi permukaan, mengadopsi beberapa proposal Presiden Joe Biden sebagai bagian dari paket infrastrukturnya yang lebih luas senilai US$ 2,3 triliun.

Namun, sektor-sektor yang mendapat keuntungan dari belanja infrastruktur mengakhiri sesi lebih rendah. Yakni, sektor Industri dan transportasi yang masing-masing turun 0,5% dan 0,7%.

Di sisi lain, GameStop Corp, saham yang paling erat kaitannya dengan fenomena “saham meme” yang didorong media sosial, turun 27,2% setelah pengecer videogame itu mengatakan akan menjual saham baru.

Saham lain yang telah diuntungkan dari reli short-squeeze ritel, termasuk Clover Health Investments Corp, AMC Entertainment Holdings, Bed Bath & Beyond Inc dan GEO Group, juga turun dalam kisaran 8% dan 19%.

Pfizer Inc naik 2,2% di tengah berita bahwa Amerika Serikat akan membayar pembuat obat itu sekitar US$ 3,5 miliar untuk 500 juta dosis vaksin Covid-19 yang ingin disumbangkan ke 100 negara berpenghasilan terendah.

 

Sumber : kontan

Leave a Reply