Sepi Sentimen, IHSG Diprediksi Loyo

idxRIFAN FINANCINDO – ┬áIndeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi bergerak terbatas cenderung melemah pada perdagangan hari ini, Senin (17/3). Hal itu disebabkan minimnya sentimen yang dapat menggerakan pasar.

Kepala Riset Koneksi Kapital Alfred Nainggolan menjelaskan, belum ada sentimen baru baik dari domestik dan global. Dari domestik sendiri, sentimen masih datang dari data ekonomi yang keluar pada awal bulan ini berupa deflasi pada Maret lalu sebesar 0,02 persen.

“Jadi dari sentimen lokal maupun global relatif tidak ada, lebih kepada sentimen yang ada cukup lama misalnya dari domestik masih cukup kuat makronya,” ungkap Alfred kepada CNNIndonesia.com, dikutip Senin (17/4).

Selain itu, pembagian keuntungan (dividen) yang dilakukan sejumlah emiten kepada pemegang saham juga masih memberikan pengaruh dan menjadi pertimbangan pelaku pasar dalam melakukan transaksi di pasar modal. Seperti diketahui, mayoritas emiten menaikan rasio dividennya.

“Indeks sebenarnya sudah price in, musim pembagian dividen pada April dan Mei,” imbuh Alfred.

Sementara itu, perkembangan dari ketegangan geopolitik yang sedang terjadi antara Amerika Serikat (AS) dengan Suriah dan Korea Utara akan menjadi perhatian pelaku pasar hari ini. Pasalnya, hal itu akan mempengaruhi harga sejumlah komoditas.

“Kalau aman, pasar bisa melanjutkan all time high-nya. Tapi mungkin tidak akan besar, melainkan dengan level terbatas,” sambung Alfred.

Dengan begitu, Alfred menilai, sepanjang pekan ini IHSG akan bergerak dalam rentang support 5.560 dan resisten 5.688.

Serupa dengan Alfred, analis senior Binaartha Securities Reza Priyambada menjelaskan, minimnya sentimen dalam negeri dan pelemahan bursa global berdampak negatif bagi IHSG. Menurutnya, IHSG akan melanjutkan pelemahannya pada awal pekan ini.

“Kedua hal itu cenderung lebih mempengaruhi pelemahan IHSG,” terang Reza dalam risetnya.

Hari ini, Reza memprediksi IHSG berada dalam rentang support 5.583-5.599 dan resisten 5.646-5.676.

Adapun, IHSG pada akhir pekan lalu ditutup negatif ke level 5.616 atau turun 27,61 poin (0,48 persen). Jika diakumulasi, maka IHSG mengalami penurunan sebesar 0,65 persen sepanjang pekan lalu.

Alfred beranggapan, pasar tidak memiliki banyak sentimen positif yang menggairahkan pelaku pasar melakukan transaksi beli pekan lalu. Mayoritas pelaku pasar melakukan aksi ambil untung (profit taking) untuk memanfaatkan kenaikan IHSG beberapa pekan terakhir, dan sebagian melakukan aksi jual.

“Asing net sell pekan lalu karena mengantisipasi dan menunggu perkembangan dari geopolitik AS,” jelas Alfred.

Sementara itu, mayoritas saham Wall Street juga ditutup melemah pada akhir pekan lalu akibat situasi geopolitik di AS. Sektor teknologi bernasib buruk untuk sesi kesepuluh secara berturut-turut.

Terpantau, indeks Dow Jones terkoreksi 0,67 persen ke level 20.453,25, kemudian S&P 500 melemah 0,68 persen ke level 2.328,95, dan Nasdaq turun 0,53 persen ke level 5.805,15.

( cnnindonesia.com )