Saham Jepang Menguat untuk Hari Ketiga Pasca Meningkatnya Pertumbuhan AS

RIFAN FINANCINDO BERJANGKA – Saham Jepang menguat mengirim indeks Topix menuju penguatan terbesar untuk hari ketiga sejak November lalu, seiring rebound ekuitas global dan pelemahan yen.

Indeks Topix melonjak sebesar 2.7 persen ke level 1,540.91 pukul 9:04 pagi di Tokyo, menuju reli untuk hari ketiga sebesar 7.6 persen. Indeks tetap turun sebesar 2 persen pada pekan ini. Indeks Nikkei 225 naik sebesar 2.5 persen ke level 19,030.13. Sementara yen Jepang ditransaksikan pada level 120.98 per dolar pasca melemah sebesar 0.9 persen kemarin. Laporan yang dirilis kemarin menunjukan ekonomi AS meningkat melebihi perkiraan sebelumnya pada kuartal kedua, mendorong optimisme penguatan perekonomian AS dapat melawan perlambatan di China.

Data yang dirilis kemarin menunjukkan produk domestik bruto AS naik 3,7 persen tingkat tahunan pada kuartal terakhir, melebihi semua perkiraan dalam survei Bloomberg, dan naik dari tingkat pertumbuhan sebesar 2,3 persen yang dilaporkan bulan lalu. peningkatan terbesar dalam belanja konsumen dan bisnis menunjukkan ekspansi AS kembali ke jalurnya.

Sebuah reli sebesar 5,3 persen di pasar ekuitas Shanghai pada hari Kamis, yang orang yang akrab dengan masalah ini mengatakan ini dipicu ketika pemerintah bertindak untuk menopang harga, yang juga mendorong saham global. Penguatan besar terjadi pasca penutupan pasar saham Jepang.

Kontrak pada indeks Standard & Poor 500 tergelincir kurang dari 0,1 persen pasca indeks acuan melonjak sebesar 2,4 persen pada hari Kamis di New York.

Data yang akan dirilis hari ini menunjukkan kunci laju inflasi Bank Sentral Jepang (BOJ) merosot ke nol untuk ketiga kalinya tahun ini, seiring penurunan harga energi melawan upaya Gubernur Haruhiko Kuroda untuk meningkatkan belanja Jepang.

Harga konsumen tidak termasuk makanan segar yang tidak berubah pada bulan Juli dari tahun sebelumnya, menurut laporan dari Biro Pusat Statistik. Ekonom dalam survei Bloomberg telah memperkirakan penurunan sebesar 0,2 persen. (izr)

Sumber: Bloomberg