Pengaruh Brexit Terhadap Saham

RIFAN FINANCINDO BERJANGKA – Saham Jepang cenderung tidak stabil dalam perdagangan ringan menjelang voting Brexit dan seiring investor menunggu pidato dari Ketua The Fed Janet Yellen.

Indeks Topix cenderung mengambang selama seminggu terakhir, dengan melonjaknya volatilitas jangka pendek, seiring pendana menunggu voting Brexit Inggris Raya. Referendum Inggris pada keanggotaan Uni Eropa masih sulit untuk ditebak dua hari sebelum pemungutan suara dilangsungkan, dengan jajak pendapat terpisah menunjukkan keunggulan untuk kedua kubu. Di AS, Yellen dijadwalkan untuk berpidato terkait kebijakan moneter sebelum pidato para anggota parlemen pada hari Selasa dan Rabu untuk memberikan laporan setengah tahunan, yang juga akan berfungsi sebagai isyarat bagi investor.

Topix naik 0,4 % ke posisi 1,284.24 pada istirahat perdagangan di Tokyo, membalikkan kerugian sebelumnya sebanyak 1,3 %. Volume pada indeks yakni sekitar 11 % di bawah rata-rata intraday 30-hari. Nikkei 225 Stock Average naik 0,5 % ke posisi 16,046.62. Yen tergelincir 0,2 persen ke level 104,12 per dolar, menuju penurunan pertama dalam delapan hari.

Sekitar 10 saham meningkat untuk setiap tujuh yang jatuh di Topix. Pabrik obat, pabrik alat listrik, dan pabrik makanan memberikan kontribusi terbesar untuk indeks.

Sedangkan untuk ekonomi Inggris, dampak keluar dari Uni Eropa sebenarnya akan cukup positif, karena akan miliki ruang intervensi kebijakan yang lebih luas, sehingga pemerintah Inggris bisa lebih cepat melakukan intervensi ekonomi dalam merespons fenomena dan kondisi ekonomi global saat ini.

“Kalau dilihat, keluarnya Inggris dari Uni Eropa justru akan menguntungkan ekonomi Inggris. Pemerintah Inggris bisa menentukan kebijakannya sendiri,” tegas Amelia kepada VIVA.co.id melalui pesan singkat pada Selasa 21 Juni 2016.

Adapun contoh kebijakan yang bisa diambil Inggris, kata dia, secara cepat dan mandiri ketika keluar dari Uni Eropa adalah kebijakan fiskal seperti pajak, kebijakan moneter suku bunga dan nilai tukar, serta kebijakan imigrasi. ?Semua kebijakan tersebut, ke depannya tidak perlu lagi mengacu pada standar Uni Eropa,? ujarnya.

Amelia menambahkan, meski secara umum kondisi referendum Inggris cukup aman bagi Indonesia, pemerintah?tetap melihat ada ruang yang harus tetap diwaspadai, yaitu kestabilan politik saat proses keluarnya Inggris. Bila kondisi itu berjalan dengan smooth (lancar), maka itu akan menenangkan pasar.

“Intinya yang harus diwaspadai ke depannya itu adalah proses berjalan smooth dan hubungan relasi antara Inggris dan Uni Eropa dapat terjaga dengan baik, karena itu akan menenangkan pasar dan investor tidak khawatir,” ujar dia.

Perlu diketahui, kebijakan yang diambil Uni Eropa selama ini menjadi penghalang Inggris untuk melakukan perubahan regulasi yang bisa memengaruhi ekonomi. Kebijakan yang diambil Uni Eropa pada akhirnya memicu penderitaan ekonomi bagi orang-orang miskin di benua biru tersebut.

Berbagai peraturan Uni Eropa juga banyak menciptakan pengangguran massal dan menciptakan keamanan dunia yang tidak pasti, sehingga banyak pengamat mengatakan kebijakan itulah yang menjadi ketidakstabilan ekonomi dan ketidakamanan dunia.

Sumber: Bloomberg