Saham Asia Turun Pasca GDP Jepang

PT RIFAN FINANCINDO

PT RIFAN FINANCINDO

PT RIFAN FINANCINDO – Saham Asia jatuh dari satu tahun tertingginya karena data ekonomi yang mengecewakan di Jepang dan AS menahan permintaan untuk aset berisiko, bahkan sekalipun minyak rebound. Yen menahan gain terkait kenaikan pada emas dan hutang pemerintah.

Saham di Tokyo dan Sydney membawa penurunan, dengan pasar di Korea Selatan dan India ditutup Senin ini untuk liburan. Yen bertahan di dekat level terkuatnya dalam lebih dari sepekan terhadap dolar setelah data menunjukkan bahwa ekonomi Jepang tumbuh kurang dari perkiraan pada kuartal kedua. utang sepuluh tahun di Australia dan Selandia Baru naik disaat emas menghentikan penurunan dua harinya. Minyak mentah AS naik untuk hari ketiga, sedangkan nikel rebound dari penurunan terburuk sejak awal Juli.

Indeks MSCI Asia Pacific turun 0,4 persen pada 9:26 waktu Tokyo, penurunan dipimpin oleh saham pertambangan setelah pelemahan sebesar 4 persen pada harga nikel Jumat lalu menyeret indeks logam dari London Metal Exchange ke penurunan terbesar sejak akhir Juni. Indeks Australia S & P / ASX 200 turun 0,2 persen, sementara indeks S & P / NZX 50 Selandia Baru naik 0,1 persen, bertahan di sekitar rekor tertingginya. ( Bloomberg )

RPT- GDP Q2 Jepang Tumbuh Pada Kecepatan Tahunan Sebesar 0,2 persen

 

Ekonomi Jepang tumbuh pada kecepatan tahunan sebesar 0,2 persen pada periode April-Juni, berkembang untuk dua kuartal berturut-turut tetapi pada tingkat yang lebih lambat pada ekspor yang lemah dan belanja modal, data pemerintah menunjukkan Senin ini.

Pembacaan awal untuk GDP lebih lemah dari rata-rata untuk perkiraan pasar untuk ekspansi sebesar 0,7 persen dalam jajak pendapat ekonom Reuters. Ini diikuti oleh revisi pertumbuhan sebesar 2,0 persen pada kuartal pertama.

pada basis kuartal ke kuartal, GDP menandai pertumbuhan yang datar pada bulan April-Juni, dibandingkan pertumbuhan 0,2 persen yang diperkirakan oleh para ekonom. ( Reuters )

Ekonomi Jepang Hanya Tumbuh 0,2%

 

Sepanjang kuartal II-2016, atau April-Juni 2016 lalu, ekonomi Jepang hanya tumbuh 0,2%. Ekspor dan belanja investasi masih lemah. Kondisi ini memperlihatkan masih jauhnya pemulihan ekonomi di negeri sakura.

Pertumbuhan ekonomi Jepang, selaku negara dengan perekonomian terbesar ketiga di dunia, berada di bawah prediksi pelaku pasar keuangan, yang memperkirakan ekonomi Jepang tumbuh 0,7%.

Dilansir Reuters dari data pemeintah Jepang, Senin (15/8/2016), dalam dua kuartal berturut-turut, ekonomi Jepang terus melambat. Pertumbuhan ekonomi di kuartal II-2016 ini turun dari periode yang sama tahun sebelumnya, yaitu 1,9%.

Hasil data ini memperlihatkan betapa beratnya tantangan yang dihadapi pemerintah Jepang, di bawah pimpinan Perdana Menteri Shinzo Abe. Lewat program stimulus, Abe harus melawan deflasi yang terjadi di negara ini.

BIla dibandingkan kuartal I-2016, pertumbuhan ekonomi Jepang di kuartal II-2016 stagnan.

Konsumsi swasta yang menyumbang 60% dari PDB Jepang, tumbuh 0,2% di kuartal II-2016, melambat dibandingkan kuartal sebelumnya yang tumbuh 0,7%.

Sementara belanja investasi turun menjadi 0,4%, sete;ah pada kuartal sebelumnya tumbuh 0,7%.

Pada bulan ini, pemerintah Jepang mengumumkan paket ekonomi senilai 13,5 triliun yen (US$ 133 miliar) di sektor fiskal. Paket stimulus ini untuk membantu mendorong perekonomian.

Bank sentral Jepang, yaitu Bank of Japan, juga melancarkan stimulus bulan lalu untuk membeli aset-aset keuangan bermasalah. ( http://finance.detik.com )

PT RIFAN FINANCINDO