Saatnya Realisasikan Keuntungan Emas

harga-emasRIFAN FINANCINDO – Harga emas mencapai tingkat tertinggi baru, yaitu sekitar US$2.000 per troy ounce. Tingkat tertinggi emas sebelumnya adalah sekitar US$1.800 per troy ounce pada 2011.

Sebenarnya, harga emas mulai memasuki tren kenaikan sejak titik terendahnya pada 2015 dan mencatat fase kenaikan signifikan pada 2019 karena kekhawatiran terjadi resesi akibat perang dagang antara Amerika Serikat dan Cina. Kenaikan berlanjut pada 2020 karena alasan yang berbeda, yaitu Covid-19.

Sepanjang 2020, harga emas telah memberikan keuntungan sekitar 30%. Dalam mata uang rupiah, investasi di emas telah memberikan imbal hasil sekitar 34% pada tahun ini karena dipengaruhi depresiasi rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Bila ditelaah, kenaikan harga emas berkaitan erat dengan meningkatnya obligasi dengan yield negatif di dunia sejak 2015. Kini, lebih didorong oleh kebijakan moneter bank global yang ekspansif.

Di sisi lain, likuiditas di pasar keuangan terus bertambah, sementara investor global masih banyak yang belum yakin untuk meningkatkan investasi di risky assets seperti saham dan obligasi di emerging markets. Alhasil, investor mencari instrumen yang dianggap aman, yaitu emas.

Namun, emas tetap memiliki risiko. Seperti halnya aset lain yang diperdagangkan di bursa, harga pasarnya akan berfluktuasi. Contohnya, saat harga emas turun 40% dari tertinggi pada 2011 ke terendah pada 2015 dan baru berhasil break even 9 tahun kemudian.

Selanjutnya, dengan harga emas yang sudah tinggi, kebijakan moneter yang tetap ekspansif dengan likuiditas di pasar keuangan yang besar serta pemulihan ekonomi di beberapa negara, apa yang akan terjadi di alokasi aset investasi global?

Setelah kenaikan harga emas cukup banyak dan mulai terlihat pemulihan ekonomi bertahap, maka diperkirakan investor akan mulai mempertimbangkan aset lainnya yang memiliki imbal hasil masih tinggi dan risiko yang tidak terlalu tinggi.

Hal ini menyebabkan mulai adanya inflow ke obligasi pemerintah negara berkembang. Di Indonesia, terlihat dalam satu bulan terakhir yield SBN 5-tahun turun 60 basis points dari 6,5% menjadi 5,9%, lebih rendah dari sebelum pandemi.

Inflow ke pasar obligasi Indonesia diperkirakan masih berlanjut. Terlebih karena spread yield obligasi Indonesia terhadap yield US Treasury masih lebar di atas rata-rata historisnya.

Bila makin banyak negara lain yang ekonominya pulih, diperkirakan inflow dana investor asing akan makin meningkat masuk ke emerging markets termasuk Indonesia. Bila ada pemulihan data ekonomi makro dan perbaikan laporan keuangan emiten, bukan tidak mungkin diikuti perpindahan investasi dari emas ke pasar saham Indonesia.

Hal ini berpotensi membuat harga emas stagnan atau koreksi. Di samping itu, inflow asing ke Indonesia akan membuat rupiah terapresiasi sehingga imbal hasil investasi emas dalam rupiah juga akan turun lebih dalam.

Bila skenario tersebut terjadi, maka investor saham dan obligasi juga tidak seharusnya dalam euforia karena pada dasarnya, kenaikan harga pada masa ini banyak dipengaruhi kebijakan moneter global yang ekspansif. Bila kebijakan ini berbalik arah, maka harga aset di pasar modal emerging markets juga akan terkoreksi.

Untuk itu, salah satu strategi aset alokasi yang dapat dipertimbangkan adalah contrarian. Dalam hal ini ada baiknya investor melakukan realisasi keuntungan di emas pada saat euforia pasar untuk menghindari koreksi yang belum terjadi.

Bisa juga dengan realokasi aset jangka menengah ke pasar obligasi di mana valuasi tidak mahal dan saat ini memasuki momentum positifnya. Yield SBN 10-tahun sekitar 6,5%—6,7% dapat dijadikan target yield untuk melakukan realisasi keuntungan bila pada yield tersebut spread dengan yield US Treasury 10 tahun di sekitar 550 basis points.

Di sisi lain, alokasi aset jangka panjang dapat mulai bertahap dialokasikan ke saham dengan porsi yang lebih kecil dan meningkat bila benar terlihat ada perbaikan kinerja bisnis emiten pada kuartal III dan IV. Bobot saham dapat kembali netral bila valuasi saham telah kembali ke rata-rata historis jangka panjangnya.

Untuk jangka yang lebih panjang, investor juga perlu berjaga-jaga ketika ekonomi mulai normal dan inflasi meningkat. Pada saat itu, bank sentral di Indonesia dan di seluruh dunia perlu mulai melakukan tapering, mungkin pada saat yang bersamaan.

Investor mungkin perlu menavigasi situasi ini nanti pada 2022 hingga 2023. Mungkin ada periode pasar bullish sebelum dimulainya tapering tersebut ketika harga efek akan menjadi di atas nilai wajarnya. Itu akan menjadi isyarat bagi investor untuk merealisasikan keuntungan, menjadi lebih konservatif, dan bersiap untuk volatilitas.

 

Sumber : bisnis

Leave a Reply