Rupiah Tertekan ke Rp14.335

Teller Bank Mandiri menghitung uang pecahan dolar Amerika di Jakarta, Selasa (10/6). Nilait tukar rupiah atas dolar Amerika pada penutupan hari ini menguat pada posisi Rp 13.308 dibandingkan pada penutupan sebelumnya Rp Rp 13.385 per dolar AS. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/ed/pd/15RIFAN FINANCINDO – Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.335 per dolar AS pada perdagangan Senin (17/6) pagi. Dengan demikian, maka rupiah melemah 0,07 persen dibandingkan penutupan Jumat (14/6) yakni Rp14.325 per dolar AS.

Rupiah tidak sendiri. Pasalnya, pagi hari ini sebagian besar mata uang utama Asia cenderung melemah terhadap dolar AS, seperti Ringgit Malaysia yang turun 0,2 persen, won Korea SelatanĀ  turun 0,1 persen, peso Filipina minus 0,08 persen, yen Jepang melemah 0,07 persen, dan dolar Hong Kong terkulai 0,03 persen.

Di kawasan Asia, hanya baht Thailand dan dolar Singapura yang menguat terhadap dolar AS dengan nilai 0,04 persen. Sementara itu, mata uang negara maju cenderung menguat terhadap dolar AS, seperti dolar Australia yang menguat 0,13 persen dan euro sebesar 0,09 persen.

Di sisi lain, poundsterling Inggris tak bergerak terhadap dolar AS. Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan pelaku pasar saat ini masih menanti hasil pertemuan bank sentral AS The Fed pada 19 Juni mendatang.

Saat ini, spekulasi The Fed akan menurunkan suku bunga acuannya menguat lantaran inflasi Negeri Paman Sam tengah melamban. Namun, data yang menunjukkan penjualan ritel tumbuh 0,5 persen pada Mei atau lebih tinggi dibanding April yang hanya 0,3 persen, mengurangi spekulasi tersebut.

Sentimen tersebut yang bikin indeks dolar tengah perkasa ketimbang mata uang lainnya, dan membuat analis ragu bahwa The Fed benar-benar akan menurunkan suku bunga acuannya. Di kesempatan berbeda, rilis data china terbilang cukup mengecewakan untuk produksi industri dan investasi aset tetap pada bulan Mei.

Produksi industri hanya tumbuh 5 persen, atau pada tingkatan paling lambat sejak 2002 lalu.

“Kemudian, China juga mengumumkan tindakan balasan terbaru dalam perselisihannya yang meluas dengan AS, menaikkan tarif impor pipa baja tertentu dari AS dan Uni Eropa,” jelas Ibrahim, Senin (17/4).

 

Sumber : cnnindonesia.com