Rupiah Masih Tertekan, Sempat Sentuh 13.622 per Dolar AS

http://www.moneyandmatters.com/wp-content/uploads/2014/04/dolll.jpgRIFAN FINANCINDO BERJANGKA – Nilai tukar rupiah terhadap US dolar mampu menguat tipis pada perdagangan di awal pekan ini. Namun meskipun menguat, rupiah masih berada di 13.500 per dolar AS.

Menurut Bloomberg, Senin tanggal 13 Mei 2016, rupiah dibuka di angka 13.589 per dolar AS, menguat apabila dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya di angka 13.607 per dolar AS. Sejak pagi sampai siang hari ini, rupiah berada di 13.568 per dolar AS hingga 13.622 per dolar AS.

Sedangkan nilai tukar rupiah menurut Referensi Jakarta InterbankSpot DollarRate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), dipatok di angka 13.607 per dolar AS, turun jika dibandingkan dengan nilai tukar sebelumnya yang ada di angka 13.573 per dolar AS.

Rupiah belum bergerak menguat karena masih dibayang-bayangi rencana kenaikan suku bunga The Fed. Beberapa dewan gubernur Bank Sentral AS mengungkapkan bahwa ada kemungkinan suku bunga akan naik pada Juni atau Juli setelah melihat kondisi ekonomi yang ada.

Namun Gubernur The Fed Janet Yellen belum memberikan sinyal yang jelas bahwa kenaikannya akan dilakukan dalam waktu dekat. “Jika the Fed belum menaikkan suku bunga pada bulan depan, ada peluang dolar AS akan terus menguat dan menekan mata uang negara berkembang,” jelas analis mata uang ABN Amro Bank NV Singapura, Roy Teo.

Sedangkan Ekonom PT Samuel Sekuritas, Rangga Cita menjelaskan, data fundamental ekonomi RI belum mendukung mata uang rupiah sehingga masih tertekan oleh penguatan dolar AS maupun melemahnya harga komoditas.

Ketiadaan optimisme terhadap prospek pertumbuhan ekonomi ditambah ketidakpastian tax amnesty membuat daya tahan rupiah terhadap gejolak eksternal menjadi sangat berkurang dibanding sebelumnya. “Rupiah bahkan melemah di saat dolar mulai menguat terhadap mayoritas kurs di Asia pada perdagangan Jumat minggu lalu,” katanya.

Tekanan pelemahan terhadap rupiah masih akan bertahan walaupun penguatan dollar yang tidak lagi tajam bisa mengurangi ruang depresiasi rupiah.