Rupiah Dibuka Menguat ke Level Rp14.390

9cc5bbb9-9030-47e1-9a96-e376a6118da2_169RIFAN FINANCINDO – Nilai tukar rupiah berada di level Rp14.390 per dolar AS pada Rabu (10/3) pagi. Posisi tersebut menguat 0,10 persen dibandingkan perdagangan Selasa (9/3) sore di level Rp14.405 per dolar AS.

Pag ini, mayoritas mata uang di kawasan Asia terpantau melemah terhadap dolar AS. Yen Jepang melemah 0,20 persen, dolar Singapura melemah 0,17 persen, peso Filipina melemah 0,05 persen, yuan China melemah 0,06 persen, dan ringgit Malaysia melemah 0,15 persen.

Sebaliknya dolar Taiwan menguat 0,14 persen, won Korea Selatan menguat 0,09 persen, rupee India menguat 0,44 persen, dan bath Thailand terpantau menguat 0,07 persen.

Sementara itu, mata uang di negara maju bergerak bervariasi terhadap dolar AS. Poundsterling Inggris menguat 0,14 persen dan dolar Australia menguat 0,26 persen. Sedangkan dolar Kanada melemah 0,13 persen dan franc Swiss melemah 0,20 persen.

Direktur PT Solid Gold Berjangka Dikki Soetopo memprediksi rupiah masih akan tertekan akibat capital outflow pada perdagangan hari ini. Di pasar saham, data pasar menunjukkan investor asing melakukan aksi jual bersih (net sell) senilai Rp740 miliar.

Sementara awal pekan kemarin net sell tercatat Rp414 miliar. Artinya dalam 2 hari terjadi capital outflow lebih dari Rp1,1 triliun

“Selain itu, capital outflow kemungkinan besar juga terjadi di pasar obligasi, sebab yield Surat Berharga Negara (SBN) melesat naik. Yield SBN tenor 10 tahun hari ini naik 6 basis poin ke 6,817 persen. Hal serupa juga terjadi kemarin di mana yield naik 13,2 basis poin,” tuturnya kepada CNNIndonesia.com, Rabu (10/3).

Di sisi lain, stimulus fiskal di AS senilai US$1,9 triliun yang akan cair di pekan ini juga bukannya membuat dolar AS melemah, malah semakin perkasa.

Hal tersebut terlihat dari indeks dolar AS yang terus menanjak. Indeks yang mengukur kekuatan dolar AS tersebut kemarin menguat 0,37 persen ke 92,313, level tertinggi sejak November 2020 lalu.

“Saat stimulus fiskal cair, jumlah uang yang beredar di perekonomian AS akan bertambah, secara teori dolar AS akan melemah. Tetapi kali ini beda ceritanya, sebab stimulus tersebut berisiko membuat inflasi melesat,” ucap Dikki.

Menurut Dikki, pasar mengantisipasi tersebut dengan melepas kepemilikan obligasi (Treasury) AS dan menyebabkan yield terus menanjak.

Kenaikan yield Treasury yang dipicu prospek pemulihan ekonomi AS serta kenaikan inflasi membuat pasar keuangan global kembali dihantui oleh tapering (pengurangan program pembelian aset atau quantitative easing) The Fed yang dapat memicu taper tantrum.

Taper tantrum pernah terjadi pada periode 2013-2015, saat itu indeks dolar AS melesat tajam, dan rupiah menjadi salah satu korbannya saat itu. “Bayang-bayang taper tantrum tersebut menjadi penekan rupiah. Hari ini pergerakan rupiah di kisaran Rp14.290-14.450 per dolar AS,” pungkasnya.

 

Sumber : cnnindonesia