PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA | Rupiah cuma akan menguat sesaat

Petugas bank menata mata uang dolar Amerika Serikat di Jakarta, Kamis (175). Berdasarkan data uang beredar Bank Indonesia, dana pihak ketiga (DPK) valuta asing turun 0,5% atau menjadi Rp 698,4 triliun per Maret 2018. Perbankan tidak terlalu agresif menghimpun likuiditas valuta asing, saat rupiah melemah. KONTANCheppy A. Muchlis

 

PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA – Rupiah berpeluang menguat dalam jangka pendek terhadap dollar Amerika Serikat (AS). Hal ini seiring kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) atau BI 7-day reverse repo rate (BI 7-DRR) menjadi 4,5%.

Analis Monex Investindo Futures Faisyal mengatakan, kenaikan BI 7-DRR akan memicu penguatan nilai tukar rupiah. Kenaikan suku bunga ini dapat menjadi katalis positif di tengah sejumlah data ekonomi Indonesia yang kurang memuaskan, mulai dari data neraca dagang dan defisit transaksi berjalan hingga cadangan devisa yang terus menurun akibat intervensi BI terhadap penurunan rupiah.

Penguatan rupiah akibat kenaikan BI 7-DRR diyakini bakal membuat investor asing kembali masuk ke pasar modal Indonesia. “Paling tidak potensi kerugian kurs ketika investor asing berinvestasi di Indonesia bisa diminimalisir,” kata Faisyal, Kamis (17/5).

Kendati demikian, potensi penguatan rupiah hanya bersifat sementara. Mengingat sentimen eksternal yang mempengaruhi mata uang garuda tergolong kuat. Misalnya, ekspektasi kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat (AS) dan ketidakpastian konflik geopolitik di sejumlah kawasan di dunia.

Tidak hanya itu, Faisyal juga menuturkan, peristiwa tak terduga seperti serangan bom di Indonesia beberapa waktu lalu bisa berdampak negatif bagi kurs mata uang Garuda jika berlanjut.

Terlepas dari itu, analis Pasar Uang Bank Mandiri Reny Eka Putri berpendapat, kenaikan suku bunga acuan BI memang dibutuhkan. Selain untuk menstabilkan volatilitas rupiah, kenaikan BI 7-DRR juga untuk mengantisipasi membengkaknya inflasi pada Mei hingga Juni.

Potensi naiknya inflasi tak lepas dari momentum puasa dan hari raya Idul Fitri, yang kemungkinan meningkatkan permintaan masyarakat di sektor konsumsi. “Justru kalau BI kembali menunda kenaikan suku bunga acuan, maka tindakan itu melawan ekspektasi pasar. Tentu hal itu berdampak negatif pada rupiah,” terang Reny.

Ia berharap,  bank sentral tidak hanya menaikkan BI 7-DRR satu kali saja. Idealnya, suku bunga dapat naik secara bertahap hingga 50 bps sepanjang tahun ini. Hal ini perlu dilakukan karena potensi tekanan eksternal yang mendera rupiah masih berlanjut hingga akhir tahun.

Sementara itu, Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia Lana Soelistianingsih menyebut, kenaikan suku bunga acuan pada dasarnya hanya salah satu senjata bank sentral dalam menjaga stabilitas rupiah. Sebab, BI tidak mungkin terus-menerus mengandalkan cadangan devisa untuk mengintervensi rupiah.

Karena itu, pemerintah perlu melakukan upaya lain yang dapat meningkatkan fundamental ekonomi Indonesia. Dengan demikian, rupiah bisa mampu bertahan di tengah tekanan eksternal.

Menurut Lana, hingga akhir tahun ini kurs rupiah bisa kembali menguat ke kisaran Rp 13.700 per dollar AS. Level ini dianggap paling realistis bila mempertimbangkan dampak kenaikan suku bunga acuan AS. Namun, bisa saja rupiah tetap melemah dan tertekan apabila ada pengaruh dari kebijakan kontroversial pemerintahan AS atau efek konflik geopolitik.

Reny juga menilai kurs rupiah bisa kembali ke bawah Rp 14.000 pada akhir tahun nanti. Ia memprediksi, di akhir tahun ini kurs rupiah akan bergerak antara Rp 13.750–Rp 13.850 per dollar AS.

Di sisi lain, Faisyal menilai jika tekanan eksternal yang kuat terus berlangsung, sementara neraca dagang dan transaksi berjalan Indonesia masih mengalami defisit, rupiah terancam terjerembab di kisaran Rp 14.000–Rp 15.000 pada akhir tahun ini.

 

Sumber : http://investasi.kontan.co.id/

Leave a Reply