PT Rifan Financindo Berjangka – Rencana Kebijakan Impor Baja AS Bawa Wall Street Melemah

1

PT Rifan Financindo Berjangka – Wall street melemah dengan indeks Dow dan S & P 500 mencatat penurunan untuk hari ketiga berturut-turut lebih dari 1 persen.

Pasar merosot setelah Presiden Donald Trump mengatakan bahwa Amerika Serikat akan mengenakan tarif impor pada baja dan aluminium. Kebijakan ini meningkatkan kekhawatiran tentang harga yang lebih tinggi dan terjadinya perang dagang.

Melansir laman Reuters, indeks Dow Jones Industrial Average turun 420,22 poin atau 1,68 persen menjadi 24,608.98. Sementara indeks S&P 500 kehilangan 36,16 poin atau 1,33 persen menjadi 2.677,67 dan Nasdaq Composite turun 92,45 poin atau 1,27 persen menjadi 7.180,56.

Penurunan tersebut menempatkan Dow ke wilayah negatif untuk tahun ini dan mendorong Indeks Volatilitas Cboe .VIX ke posisi tertingginya sejak 13 Februari. Ini mengurangi pemulihan pasar dari kerugian yang besar pada awal Februari.

Sedangkan indeks S&P 500 turun 3,7 persen sejak penutupan di hari Senin. Ini menandai penurunan ketiga berturut-turut, yang merupakan penurunan pertama indeks S&P sejak Januari 2016.

Pernyataan Trump membuat saham produsen mobil dan konsumen besar dari baja dan aluminium lainnya anjlok. Trump mengatakan bahwa negaranya akan mengenakan tarif sebesar 25 persen untuk impor baja dan 10 persen pada aluminium mulai minggu depan.

Tercatat saham General Motors Co (GM.N) kehilangan 4 persen, dan Ford Motor Co (FN) turun 3,0 persen.

Di sisi lain, kebijakan ini membuatĀ  saham perusahaan baja dan aluminium AS melonjak. Saham AS Steel (X.N) naik 5,7 persen.

Saham industri besar lain seperti Boeing (BA.N) dan Caterpillar (CAT.N) juga turun karena investor khawatir dengan kenaikan biaya bahan baku dan hambatan perdagangan di tempat lain. Harga saham Boeing turun 3,5 persen dan Caterpillar turun 2,8 persen.

“Selalu ada kekhawatiran tentang adanya tanggapan pembalasan terhadap kebijakan ini. Mendasari semua masalah perdagangan di sini, ketika Anda memiliki perang dagang, sekali lagi ini bisa memicu inflasi, karena mungkin harga akan menjadi lebih tinggi,” kata Chuck Carlson, CEO di Horizon Investment Services di Hammond, Indiana.

Kenaikan inflasi dan imbal hasil obligasi menjadi perhatian utama karena Wall Street mengakhiri Februari dengan posisi bergejolak, di mana indeks Dow dan S & P 500 membukukan bulan terburuk sejak Januari 2016.

Di sisi lain, pasar saham AS juga dipengaruhi Ketua Federal Reserve Jerome Powell membuat khawatir pasar dengan perkataannya pada hari Selasa yang menimbulkan kekhawatiran tentang potensi kenaikan suku bunga akan terjadi 4 kali pada tahun ini, daripada prediksi sebelumnya tiga kali.

Namun Presiden Fed New York William Dudley, yang berbicara di Sao Paulo, Brasil, menyatakan bahwa kenaikan suku bunga sebanyak empat tingkat akan berlangsung bertahap. Namun investor mengatakan itu adalah masalah tarif yang mendorong pasar melakukan aksi jual di siang hari.

Sekitar 9,0 miliar saham berpindah tangan di bursa AS. Itu dibandingkan dengan rata-rata 8,4 miliar harian selama 20 hari perdagangan terakhir, menurut data Thomson Reuters.

Sumber : http://bisnis.liputan6.com