Produksi Melonjak, Harga Minyak Melorot

o2uYxkU7c4RIFAN FINANCINDO Р Harga minyak melemah 2 persen pada perdagangan Senin (7/8) waktu Amerika Serikat setelah produksi minyak Libya kembali meningkat yang ditambah munculnya kekhawatiran produksi negara-negara pengekspor minyak dunia (Organization of the Petroleum Countries/OPEC) dan AS akan kembali menanjak.

Dikutip dari Reuters, produksi dari lapangan Sharara di Libya telah kembali normal setelah sebelumnya operasionalnya terganggu oleh organisasi bersenjata di kota Zawiya. Lapangan tersebut membantu Libya mencapai produksi sebesar 1 juta barel per hari pada bulan Juni silam.

Akibatnya, harga minyak Brent turun US$0,26 ke angka US$52,16 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah AS juga turun US$0,34 ke angka US$48,04 per barel.

Adapun, sentimen lain yang memperkuat harga minyak adalah kekhawatiran akan efektivitas pemangkasan produksi yang dilakukan oleh OPEC dan Rusia. Pasalnya, produksi OPEC menyentuh titik tertingginya pada bulan Juli kemarin.

Selain Libya, produksi OPEC juga didorong oleh pulihnya produksi minyak dari Nigeria. Untuk itu, negara-negara OPEC dan non-OPEC akan bertemu di Abu Dhabi hari Senin hingga Selasa mendatang untuk meningkatkan kepatuhan akan pemangkasan produksi sebesar 1,8 juta barel per hari.

Selain itu, pelaku pasar juga mengkhawatirkan produksi minyak AS meski data Baker Hughes menunjukkan adanya pengurangan aktivitas pengeboran. Adapun, produksi minyak AS kini mencapai 9,43 juta barel per hari atau meningkat 12 persen dibanding bulan Juni tahun lalu.

Lembaga keuangan Morgan Stanley meramal, produksi minyak AS akan berkembang 900 ribu barel per hari di akhir tahun nanti dari produksi di tahun sebelumnya. Prediksi ini lebih besar dibandingkan ramalan sebelumnya yakni 860 ribu barel per hari. ( cnnindonesia.com )

 

Harga Emas Naik di Tengah Kekhawatiran Soal Suku Bunga

Harga emas naik di tengah melemahnya dolar Amerika Serikat (AS) seiring investor yang terus mencermati kenaikan suku bunga lebih lanjut.

Melansir laman Reuters, harga emas di pasar Spot naik 0,1 persen menjadi US$ 1,259.20 per ounce usai pada Jumat pekan lalu, menyentuh posisi terendahnya di bawah dua minggu US$ 1.254 per ounce.

Sementara harga emas berjangka AS untuk pengiriman Desember ditutup naik 0,01 persen ke posisi US$ 1.264,70 per ounce.

Harga emas dipengaruhi Dolar yang beringsut lebih rendah, karena investor konsolidasi sebelum data inflasi keluar pekan ini yang menjadi sinyal turnaround Dolar di tahun ini.

Biasanya melemahnya dolar AS mendukung harga komoditas seperti emas. Sebab pelemahan greenback, menurunkan biaya pembelian emas di luar Amerika Serikat.

Di sisi lain, investor juga tetap mewaspadai data pekerjaan yang tak terduga menguat pada hari Jumat lalu. “Kami pikir laporan pekerjaan cukup baik bagi Fed tapi pasar tetap skeptis bahwa akan ada kenaikan tarif di tahun ini, “kata Rob Haworth, Senior Strategi Investasi Bank Wealth Management.

Dalam minggu mendatang, harga emas bisa mendapatkan dorongan jika AS memilih untuk meningkatkan pengurangan plafon utang, tanpa menghubungkan ke belanja atau pajak, menurut Analis ICBC
Standard Bank, Tom Kendall.

Adapun harga perak naik 0,1 persen menjadi US$ 16,25 per ounce, setelah jatuh ke posisi US$ 10,16, rendah sejak 20 Juli.

Harga Platinum naik 0,4 persen menjadi US$ 963,20 per ounce, setelah
naik 3,3 persen pekan lalu, kenaikan mingguan terbesar sejak awal Januar.Palladium naik 0,9 persen menjadi $ 884,47 per ounce. Harga Palladium menyentuh US$ 866, terendah sejak 27 Jul.  ( liputan6.com )