Peter Navarro bikin Rupiah babak belur

peter-navarroalex-brandonap-photo_169RIFAN FINANCINDO – Nilai tukar rupiah kembali melemah melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (23/6/2020), bahkan hingga ke atas Rp 14.200/US$. Penasehat perdagangan Gedung Putih, Peter Navarro, menjadi penyebab buruknya kinerja rupiah hingga tengah hari ini.

Berdasarkan data Refinitiv, rupiah membuka perdagangan dengan stagnan di Rp 14.050/US$, tetapi tidak lama langsung masuk ke zona merah. Depresiasi semakin berlanjut hingga 0,85% di Rp 14.230/US$, sebelum akhirnya terpangkas dan berada di Rp 14.150/US$ melemah 0,28% di pasar spot.

Lonjakan kasus pandemi penyakit Covid-19 yang terjadi di China, Australia, Jerman, dan AS membuat sentimen pelaku pasar memburuk kemarin dan membuat rupiah terpukul.

Tetapi nyatanya sentimen pelaku pasar tak buruk-buruk amat, bursa saham AS (Wall Street) berhasil menguat pada perdagangan Senin kemarin.

Penguatan kiblat bursa saham dunia ini tentunya memberikan angin segar ke pasar Asia pagi ini. Sentimen pelaku pasar yang bagus akan menjadi modal bagi rupiah untuk kembali menguat.

Rupiah menunjukkan menunjukkan tanda-tanda menguat sebelum pasar dalam negeri dibuka. Hal tersebut terlihat dari pergerakan rupiah di pasar non-deliverable forward (NDF) yang lebih kuat ketimbang posisi kemarin sore.

Tetapi, rupiah di NDF berbalik menjadi lebih lemah setelah Navarro mengatakan kesepakatan dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China sudah berakhir. Sontak arah pasar langsung berubah setelah pernyataan tersebut, bursa saham Asia yang sebelumnya menghijau (menjadi indikasi mood investor yang membaik) berbalik ke zona merah.

Navaro yang berbicara dalam acara “The Story” di Fox mengatakan Presiden AS Donald Trump sudah memutuskan untuk mengakhiri kesepakatan dagang dengan China karena intelijen menyakini virus corona berasal dari laboratorium di kota Wuhan.

“Di sini titik baliknya. Mereka datang pada 15 Januari untuk menandatangani kesepakatan dagang, saat itu mereka sudah tahu ada virus tersebut selama 2 bulan” kata Navarro menjelaskan keputusan tersebut.

“Saat itu, ratusan bahkan ribuan orang China datang ke negara ini sehingga virus menyebar, dan hanya beberapa menit setelahnya kita mulai tahu pandemi ini,” tambah Navarro.

Navarro bahkan membandingkan China dengan pemerintahan Jepang pada 1941 ketika berbicara dengan pemerintahan Presiden Franklin D. Roosevelt, sebelum akhirnya malah menyerang Pearl Harbor.

“Saya pikir semua orang di sini dan di sekitar negara ini sudah paham jika China berbohong dan warga Amerika meninggal,” kata Navarro.

Pernyataan Navarro tersebut bisa jadi membuat hubungan AS-China memburuk, dan babak baru perang dagang dimulai. Saat pandemi penyakit akibat virus corona (Covid-19) belum diketahui kapan akan berakhir, perang dagang AS-China akan menjadi kabar buruk yang membuat perekonomian global semakin nyungsep.

Meski demikian Navarro merevisi lagi pernyataannya, begitu juga Presiden Trump langsung menyatakan kesepakatan dagang dengan China masih tetap melalui akun Twitternya.

“Komentar saya diterjemahkan jauh diliuar konteks,” kata Navarro menanggapi pernyataannya yang membuat sentimen pelaku pasar memburuk.

“Mereka tidak ada melakukan perubahan apapun pada kesepakatan dagang fase I, yang masih tetap seperti sebelumnya. Saya hanya mengatakan kurangnya kepercayaan yang kita miliki saat ini pada Partai Komunis China setelah mereka berbohong mengenai asal virus (corona) China dan menyebarkan pandemi ke seluruh dunia,” tambahnya.

Tetapi sentimen pelaku pasar masih belum pulih kembali, rupiah terus tertekan.

 

Sumber : cnbcindonesia