Perusahaan AS Masih Betah di China

316f7406-c3db-425f-8056-c8a7d874296d_169RIFAN FINANCINDO – Perusahaan Amerika Serikat di China merasa semakin pesimistis dengan penyelesaian ketegangan perdagangan antara Washington dan Beijing.

Berdasarkan hasil survei Kamar Dagang Amerika di Shanghai terhadap 1.400 perusahaan pada Juni dan Juli lalu diketahui lebih dari seperempat perusahaan yang menjadi responden memperkirakan  ketegangan perdagangan AS-China akan berlangsung tanpa batas waktu.

Angka itu meningkat dari tahun lalu yang hanya 17 persen.

Sementara itu, sekitar seperlima responden mengatakan ketegangan dagang akan berlangsung selama tiga hingga lima tahun atau naik dibandingkan dengan tahun lalu yang hanya 13 persen.

Hanya sekitar 14 persen perusahaan yang yakin ketegangan dagang akan selesai dalam waktu satu tahun.

“Apa yang mungkin mendasari rasa negatif ini adalah kekhawatiran tentang hubungan AS-China yang lebih luas,” kata AmCham Shanghai dalam sebuah laporan yang dikutip dari CNN Business, Kamis (10/9).

Meskipun ragu ketegangan dagang segera mereda, sangat sedikit dari perusahaan yang disurvei ingin mencabut bisnis mereka dari China.

Sekitar 92 persen responden mengatakan tetap berkomitmen berbisnis China, bahkan ketika hubungan AS-China terus retak.

Keputusan mereka ambil karena China masih memberikan banyak keuntungan bagi bisnis yang masih bertahan di sana. Dalam survei AmCham tahun ini, proporsi perusahaan yang mengatakan China telah menghasilkan sumber keuntungan global yang signifikan melonjak dari 9,4 persen menjadi 32 persen.

Beberapa perusahaan fokus untuk memanfaatkan kelas menengah yang sedang tumbuh di negara itu, sementara yang lain masih bergantung pada negara untuk manufaktur.

“Perusahaan Amerika masih melihat pasar konsumen China sebagai peluang besar,” kata Ker Gibbs, presiden Kamar Dagang Amerika di Shanghai

Selama beberapa bulan terakhir, ketegangan hubungan antara AS-China semakin meruncing. Mereka memperdebatkan beberapa masalah, seperti asal-usul pandemi virus korona hingga masalah hak asasi manusia di Hong Kong dan Xinjiang hingga kontrol atas teknologi.

Bahkan, karena masalah itu, Presiden AS Donald Trump mengakhiri hubungan perdagangan khusus antara negaranya dengan Hong Kong

Bulan itu, kedua negara juga memerintahkan penutupan konsulat mereka di Houston dan Chengdu. tak hanya itu, Trump juga mengeluarkan perintah eksekutif yang mengancam akan melarang dua aplikasi populer milik China, TikTok dan WeChat, untuk beroperasi di Amerika Serikat.

 

Sumber : cnnindonesia