Perkembangan AI Jadi Peluang Baru

114495043RIFAN FINANCINDO – Perkembangan teknologi seperti intelijen artifisial atau Artificial Intelligence (AI) santer diperbincangkan. AI atau kecerdasan buatan disebut dapat menciptakan peluang baru untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat dunia.

Namun, ilmuwan komputer dari Amerika sekaligus direktur penelitian di Google, Peter Norvig mengatakan, kadang kala ada ketidak seimbangan mengenai data yang memenuhi prinsip dalam sistem AI dan kemudian menjadi tantangan penting bagi kita.

Hal ini disampaikan Peter dalam acara daring EmTech Asia 2020, yang diselenggarakan oleh Koelnmesse Pte Ltd dan MIT Technology Review, Selasa (4/8/2020).

“Sofware tradisional sejujurnya lebih wajar atau datanya memenuhi prinsip dan bergantung dengan programnya,” kata Peter.

Di mana dalam prosesnya, pembelajaran perolahan informasi dan aturan penggunaan informasi, penalaran untuk mencapai persepsi kesimpulan yang pasti, sampai koreksi dilakukan oleh programmer.

Dengan begitu, perangkat lunak tradisional berguna dalam memeriksa kode dan kode tersebut di cek secara hati-hati.

“Sementara, mesin pembelajaran (machine learning) punya pendekatan yang berbeda meskipun pakai kode juga, tapi kodenya tidak secara langsung ngasih petunjuk (terbaca) harus pakai data,” jelasnya.

Dicontohkannya pula, dalam keputusan menentukan siapa yang menang menggunakan komputer misalnya dengan menggunakan program yang sudah benar.

Maka, data yang memenuhi prinsip kewajaran dan tidak memenuhi prinsip kriteria pemenang itu tergantung pada programernya yang menginput kode.

Sedangkan, mesin pembelajaran AI itu datanya sudah otomatis formulanya.

AI berdasarkan Technopedia merupakan bidang yang menekankan penciptaan mesin cerdas yang bekerja dan bereaksi seperti manusia.

Dalam pengertian sederhananya AI adalah pengembangan intelijen mesin, pola pikir dan cara kerja mesin yang layaknya sama seperti dilakukan manusia.

Dengan kata lain AI ini seolah bisa menggantikan kemampuan manusia terhadap suatu aspek dan dalam berbagai hal seringkali melewati batas wajar kemampuan manusia itu sendiri.

Sehingga, kecerdasan buatan dari AI itu sendiri yang akan melakukan pembelajaran informasi data, penalaran, sampai persepsi koreksi dilakukan oleh mesin AI.

“Sofware mesin pembelajaran (AI) itu kita mulai dengan data, model, objektif (tujuan) dan hasilnya prediksi. Jika, ada bias data, atau modelnya dan objektifnya salah, maka prediksinya bisa keliru,” ujarnya.

Lantas bagaimana caranya membangun kewajaran dalam sistem AI ini?

Dalam pemaparannya, Peter menegaskan bahwa cara terbaik untuk membangun keadilan dalam sistem ini adalah dengan data.

“Kewajaran teknologi itu datang dari data. Makanya harus kerja keras untuk mendapatkan data,” tegasnya.

Mengumpulkan data sebanyak mungkin dan yang tidak bias menjadi penentu utama dalam keadilan sistem AI.

Ditambah dengan model dan pilihan tujuan yang jelas untuk memaksimalkan prediksi di akhir proses.

Serta, testing, penyebaran dan monitoring atau pengawasan harus dilakukan untuk meminimalisir kesalahan dan kewajaran dari hasil teknologi AI tersebut.

“Kita juga membuat produk apa saja dari data, karena data ini bisa membantu pengembangan (produk) dengan lebih baik dan tepat,” kata dia.

 

Sumber : kompas