Perang Dagang Bikin Straits Times Lesu

fe026667-7f32-45ed-bb4e-6fe6091e19d8_169RIFAN FINANCINDO – Indeks bursa saham acuan Singapura memulai perdagangan awal pekan dengan masuk di zona merah. Hari ini (27/5/2019), indeks Straits Times dibuka melemah terbatas 0,04% ke level 3.168,47 poin.

Dari 30 saham yang menghuni indeks acuan bursa saham Singapura tersebut, sebanyak 11 mencatatkan kenaikan harga, 10 saham melemah, dan 9 saham tidak mencatatkan perubahan harga.

Pekan lalu indeks Straits Times mencatatkan pelemahan 3 hari berturut-turut sebelum akhirnya menutup perdagangan akhir pekan dengan finish di zona hijau dan menguat 0,29% ke level 3.169,89.

Di tengah kisruh perseteruan perang dagang AS dan China, indeks bursa saham acuan Singapura berhasil menguat didorong oleh pengumuman produksi manufaktur yang tak terduga.

Produksi manufaktur Negeri Singa pada April tercatat naik 0,1% year-on-year (YoY) setelah pada Maret mencatatkan kontraksi hingga 4,3% YoY. Capaian tersebut juga mengalahkan konsensus pasar yang memprediksi pelemahan 3,5% secara tahunan, dilansir Trading Economics.

Produksi manufaktur Singapura bulan lalu berhasil menguat didorong peningkatan produksi pada industri kimia yang tumbuh 1,9% YoY di April, dari sebelumnya tumbuh negatif 2,6% YoY di Maret.

Sementara itu industri yang membatasi pergerakan produksi manufaktur adalah industri elektronik dan rekayasa presisi (precision engineering) yang masih mencatatkan kontraksi masing-masing sebesar 0,6% dan 0,4% secara tahunan. Pada kuartal pertama, kedua industri tersebut juga menghambat laju pertumbuhan produk domestik bruto (PDB).

Lebih lanjut, pelaku pasar di Negeri Singa tampaknya mengawali pekan dengan memasang telinga terhadap perkembangan situasi geopolitik, mulai dari drama Brexit hingga perundingan dagang antara AS dan Jepang.

Seperti yang diketahui, Perdana Menteri Inggris Theresa May memutuskan untuk mundur pada 7 Juni setelah mengakui gagal memenuhi harapan terkait proses perceraian Inggris dengan Uni Eropa (Brexit) dengan mulus.

Kemudian, terdapat banyak nama yang mencuat untuk menggantikan posisi May, tapi beberapa diantaranya mengatakan siap jika berpisah tanpa kesepakatan (No Deal). Situasi yang penuh ketidakpastian membuat investor bersikap wait and see, yang menurunkan minat pada instrument beresiko.

Selain itu, hari ini, Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe akan memulai pembicaraan formal, dimana sebagian besar membahas mengenai perdagangan dan ketegangan dengan Korea Utara, dilansir dari AFP.

Pada hari ini tidak ada rilis data ekonomi dari Singapura.

 

Sumber : cnbcindonesia.com