Penjualan Ritel Hancur Lebur

suasana-hari-pertama-pembukaan-kembali-mall-saat-perpanjangan-ppkm-level-4-di-blok-m-plaza-jakarta-selasa-1082021-14_169RIFAN FINANCINDO – Sudah lebih dari sebulan sejak pemerintah menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat hingga Level 4 sejak 3 Juli 2021 lalu, kasus Covid-19 di Tanah Air kini memang terlihat menurun dibandingkan saat puncak di Juli lalu yang menembus lebih dari 50.000 kasus harian Covid-19.

Namun sayangnya, melandainya kasus Covid-19 ini bukan tanpa syarat, mau tak mau aktivitas ekonomi menjadi lesu, terutama selama PPKM Darurat maupun Level 4 ini diterapkan.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan per kemarin, Kamis (12/08/2021), kasus konfirmasi positif bertambah 24.709, melandai dibanding dengan hari biasanya. Secara total, kasus positif Covid-19 di Indonesia menjadi 3.774.155 orang.

Angka kesembuhan bertambah 36.637 orang menjadi 3.247.715 orang. Sayangnya, ada 1.466 kasus meninggal di mana secara total kasus meninggal menjadi 113.664 orang.

Penurunan ini disebabkan oleh PPKM yang membatasi aktivitas dan mobilitas masyarakat. Makin sedikit kontak dan interaksi antar-manusia, maka makin rendah risiko penularan virus corona.

PPKM Darurat dan Level 4 mengamanatkan pekerja di sektor non-esensial dan non-kritikal untuk 100% bekerja dari rumah (work from home). Kegiatan belajar-mengajar juga masih dilakukan dari jarak jauh.

Sedangkan restoran dan warung makan (terutama yang berada di dalam ruangan) belum boleh melayani pelanggan yang makan-minum di tempat, hanya bisa pesan-bawa pulang (takeaway) dan pesan-antar (delivery). Pusat perbelanjaan juga belum boleh beroperasi.

Penjualan Ritel Hancur Lebur

Berbagai pembatasan itu (dan masih banyak yang lainnya) membuat ‘roda’ ekonomi berjalan lambat. Berbagai data terbaru memberi konfirmasi akan hal tersebut.

Paling baru adalah penjualan ritel. Bank Indonesia (BI) melaporkan penjualan ritel pada Juni 2021 tumbuh positif. Namun bulan selanjutnya diperkirakan terjadi kontraksi atau pertumbuhan negatif.

Pada Juni 2021, penjualan ritel yang dicerminkan oleh Indeks Penjualan Riil (IPR) tumbuh 2,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy). Meski masih tumbuh, tetapi jauh melambat dibandingkan Mei 2021 yang naik 14,7% yoy.

Secara bulanan (month-to-month/mtm), IPR bahkan membukukan kontraksi yaitu minus 12,8%. Jauh memburuk dibandingkan Mei 2021 yang tumbuh positif 3,2%.

“Hasil Survei Penjualan Eceran (SPE) mengindikasikan kinerja penjualan eceran terbatas dibandingkan dengan capaian pada bulan sebelumnya. Responden menyampaikan hal tersebut disebabkan menurunnya permintaan masyarakat sejalan dengan kembali normalnya konsumsi masyarakat pasca Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri, khususnya pada Kelompok Makanan, Minuman dan Tembakau,” sebut laporan BI yang dirilis Selasa (10/8/2021).

Untuk Juli 2021, BI memperkirakan penjualan ritel tumbuh -6,2% yoy. Secara bulanan juga terjadi kontraksi yaitu minus 8,3%.

“Responden menyampaikan permintaan untuk kelompok Makanan, Minuman dan Tembakau diprakirakan masih cukup baik didukung berbagai strategi seperti penjualan secara online/pesan antar yang meningkat seiring dengan kebijakan pembatasan mobilitas. Secara tahunan, penjualan eceran Juli 2021 terkontraksi 6,2% (yoy), terutama pada Kelompok Peralatan Informasi dan Komunikasi, Barang Budaya dan Rekreasi, dan Subkelompok Sandang,” lanjut keterangan BI.

Sebelumnya, BI melaporkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) juga melemah. Pada Juli 2021, IKK tercatat 80,2. Turun dibandingkan IKK bulan sebelumnya yaitu 107,4.

IKK menggunakan angka 100 sebagai titik mula. Kalau masih di bawah 100, artinya konsumen pesimistis memandang prospek perekonomian saat ini dan beberapa bulan mendatang.

Untuk kali pertama IKK terjerumus ke zona pesimistis dalam empat bulan terakhir. IKK Juli 2021 juga menjadi yang terendah sejak Oktober tahun lalu.

“Tertahannya keyakinan konsumen pada Juli 2021 disebabkan konsumen memprakirakan ekspansi kondisi perekonomian pada 6 bulan ke depan masih terbatas, baik dari aspek kegiatan usaha maupun ketersediaan lapangan kerja. Meski demikian, ekspektasi konsumen terhadap penghasilan ke depan tetap terjaga pada area optimis. Pada saat yang sama, konsumen mempersepsikan kondisi ekonomi saat ini belum sesuai yang diharapkan, ditengarai sejalan dengan penurunan aktivitas ekonomi dan penghasilan masyarakat yang lebih terbatas karena adanya Pemberlakuan PPKM Level 4 di berbagai wilayah di Indonesia,” papar keterangan tertulis BI.

Dunia usaha juga dibikin ngos-ngosan oleh PPKM. Ini tergambar dari aktivitas manufaktur yang dicerminkan oleh Purchasing Managers’ Index (PMI).

IHS Markit melaporkan, PMI manufaktur Indonesia berada di 40,1 pada Juli 2021. Anjlok dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 53,5 sekaligus menjadi yang terendah sejak Juni tahun lalu.

PMI menggunakan angka 50 sebagai titik mula. Kalau sudah di bawah 50, artinya dunia usaha sedang dalam fase kontraksi, tidak berekspansi. Juli 2021 menjadi kali pertama dalam sembilan bulan PMI manufaktur Indonesia terjerumus ke zona kontraksi.

Dari 36 negara yang dicakup oleh survei PMI manufaktur IHS Markit, skor 40,1 membawa Indonesia berada di urutan kedua terbawah. Hanya lebih baik dari Myanmar.

Sementara koreksi 13,4 poin dari Juni ke Juli 2021 adalah yang tedalam dari 36 negara tersebut. Artinya, efek dari pembatasan aktivitas dan mobilitas masyarakat terhadap sektor manufaktur paling parah terjadi di Indonesia.

“Penerapan PPKM Level 4 diperkirakan mengurangi aktivitas di perekonomian, khususnya yang identik dengan mobilitas seperti kegiatan konsumsi dan investasi. PPKM juga akan memberikan dampak ke sektor yang tergantung terhadap mobilitas masyarakat seperti perdagangan, transporasi, hotel dan restoran, serta akomodasi makan-minum. Oleh karena itu, kita semua memiliki kepentingan bersama untuk benar-benar mengendalikan varian delta Covid-19 yang akan memberikan downside risk ke outlook perekonomian paruh kedua 2021,” jelas Sri Mulyani Indrawati, Menteri Keuangan.

Sumber : cnbcindonesia