Penguatan Stok Minyak AS Buat Minyak Perpanjang Penurunan

RIFAN FINANCINDO BERJANGKA – Minyak memperpanjang penurunan seiring bertambahnya stok minyak mentah sehingga terus memnuat stok berada pada tingkat tertinggi dalam lebih dari delapan dekade sebelumnya produsen utama bertemu di Doha untuk membahas pembekuan output.

Futures kehilangan sebanyak 1,1 persen di New York setelah jatuh 1 persen pada hari Rabu. Stok meningkat 6,6 juta barel pekan lalu, menurut Administrasi Informasi Energi, lebih dari enam kali dari apa yang diproyeksikan dalam survei Bloomberg dan lebih tinggi dari semua sembilan perkiraan lainnya. Pertemuan para produsen pada 17 April nanti seharusnya akan menghasilkan langkah-langkah untuk mengurangi surplus 2 juta barel per hari, kata Wakil Menteri Perminyakan Irak Fayyad Al-Nima, tanpa menyebutkan apakah negara Persia itu akan melakukan pembekuan output.

Minyak kembali pulih setelah jatuh ke level terendah dalam lebih dari 12 tahun di tengah tanda-tanda surplus stok global akan memudar seiring penurunan produksi AS. Arab Saudi mengatakan akan setuju untuk melakukan pembekuan hanya jika pemasok lainnya termasuk Iran juga melakukan hal yang sama, sementara Kuwait mengatakan kesepakatan bisa dilakukan tanpa dukungan Teheran. Setidaknya 16 negara akan berkumpul di Doha hari Minggu nanti untuk membicarakan pembatasan output pada tingkat Januari.

West Texas Intermediate untuk pengiriman Mei turun sebanyak 46 sen ke level $ 41,30 per barel di New York Mercantile Exchange dan berada di level $ 41,33 pada pukul 08:54 pagi waktu Hong Kong. Kontrak turun 41 sen ke level $ 41,76 pada hari Rabu setelah naik 13 persen pada tiga sesi sebelumnya. Total volume perdagangan yakni sekitar 34 persen di bawah rata-rata 100-hari.

Brent untuk pengiriman Mei kehilangan sebanyak 57 sen, atau 1,3 persen, ke level $ 43,61 per barel di ICE Futures Europe exchange yang berbasis di London. Kontrak kehilangan 51 sen ke level $ 44,18 pada hari Rabu. Minyak acuan global itu berada di premi sebesar $ 1,13 untuk WTI Juni. (sdm)

Sumber: Bloomberg