Pemulihan Ekonomi RI Dibayangi 2 Risiko

bundaran-hiRIFAN FINANCINDO – Bank Mandiri menilai keluarnya Indonesia dari masa resesi pada kuartal II/2021, tidak lepas dari sejumlah faktor penting. Faktor tersebut a.l. percepatan program vaksinasi Covid-19, kebijakan moneter akomodatif, serta front-loading stimulus fiskal terkait program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Akan tetapi, masa pemulihan ekonomi ini masih menghadapi dua risiko utama.

Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro melihat pemulihan ekonomi berpotensi terhambat pada kuartal III/2021. Hal itu disebabkan oleh penyebaran varian Delta yang mengharuskan pemerintah menerapkan pengetatan pembatasan mobilitas hingga saat ini.

Walaupun, pemerintah kini secara perlahan melonggarkan pembatasan tersebut seiring dengan kondisi penambahan kasus positif Covid-19. Misalnya, dengan menurunkan level PPKM di sejumlah daerah yang menunjukkan indikasi perbaikan kondisi Covid-19.

“Pembatasan aktivitas masyarakat tersebut dibutuhkan guna menjaga fondasi pemulihan ekonomi ke depannya. Dengan terus digalakkannya program vaksinasi dan percepatan realisasi program PEN, pemulihan ekonomi Indonesia diharapkan akan mampu kembali terakselerasi di triwulan IV 2021 dan di sepanjang 2022,” ujar Andry pada kajian yang dikutip Bisnis, Jumat (27/8/2021).

Selain dari kondisi sektor kesehatan di dalam negeri, ketidakpastian pemulihan ekonomi juga datang dari berbagai faktor. Andry menilai akses vaksinasi tiap negara yang tidak merata turut menyumbang ketidakpastian yang juga dialami oleh Indonesia.

Adapun, pelaksanaan vaksinasi yang cepat serta kemudahan akses vaksin mendukung pemulihan ekonomi negara-negara maju seperti Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa. Hal ini, ditunjukkan dengan cepatnya pemulihan ekonomi yang dialami oleh negara adidaya tersebut.

“Amerika Serikat dan Uni Eropa memimpin pemulihan ekonomi pada periode tersebut sejalan dengan cepatnya pelaksanaan vaksinasi yang didukung kemudahan akses dalam mendapatkan vaksin Covid-19,” tulis Andry.

Pada sisi positifnya, Andry mencatat seluruh komponen PDB membaik,di kuartal II/2021 seperti kinerja ekspor, investasi, konsumsi rumah tangga serta konsumsi pemerintah. Lalu, seluruh sektor ekonomi tumbuh positif di kuartal II/2021, dengan pertumbuhan tertinggi pada sektor transportasi dan perdagangan, akomodasi dan makanan/minuman, jasa kesehatan dan kegiatan sosial, jasa perusahaan, dan jasa lainnya.

Selanjutnya, tingkat inflasi tetap terjaga di tengah berlanjutnya pandemi, dipengaruhi oleh perpanjangan insentif PPnBm dan PPN rumah, serta pemulihan negara maju.

Lalu, defisit neraca transaksi berjalan tercatat rendah meski melebar pada kuartal II/2021 seiring dengan proses pemulihan ekonomi Indonesia.

Surplus neraca perdagangan terus berlanjut dengan pertumbuhan ekspor yang didorong oleh naiknya harga-harga komoditas dan permintaan eksternal dilaporkan lebih cepat daripada pertumbuhan impor.

Pada pasar keuangan, aliran modal asing juga mencatatkan net inflow. Semua hal tersebut, kata Andry, berhasil menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan pasar keuangan Indonesia.

“Namun, naiknya risiko sejak Juli 2021 terkait dampak penerapan PPKM Darurat/Level 3 – 4 pada proses pemulihan ekonomi dan rencana tapering oleh bank sentral Amerika Serikat (AS) mengakibatkan aliran modal asing pada pasar SBN telah berbalik dan membukukan net outflow,” tutur Andry.

Sumber : bisnis