Pemotongan Produksi Minyak Diperpanjang

RifanFinancindoPT RIFAN FINANCINDO – Menteri Perminyakan Iran Bijan Zanganeh kepada wartawan hari ini mengatakan, kesepakatan pemotongan produksi minyak secara global kemungkinan akan diperpanjang. Namun, kali ini yang dibutuhkan untuk membahas subjek secara menyeluruh.

“Tampaknya sebagian besar (negara) OPEC dan non-OPEC akan memperpanjang perjanjian tersebut, namun waktu yang dibutuhkan untuk mengevaluasi situasi dan menggelar pertemuan serta diskusi dengan orang lain,” kata Zanganeh, yang sedang berkunjung Moskow seperti dikutip dari Reuters, Selasa (28/3/2017).

“Saya pikir itu perlu bahwa semua anggota mematuhi komitmen mereka,” kata dia saat Ditanya apakah Iran akan siap untuk memangkas produksi sendiri di bawah kemungkinan perpanjangan.

Menurutnya, produksi minyak Iran saat ini mendekati level 3,8 juta barel per hari. Zanganeh merupakan bagian dari delegasi yang dipimpin Presiden Iran Hassan Rouhani yang mengunjungi Rusia pada 27-28 Maret.

Wall Street Menguat Berkat Naiknya Indeks Kepercayaan Konsumen

Pasar saham Amerika Serikat alias Wall Street menguat pada penutupan perdagangan Selasa (28/3) waktu AS, setelah investor melihat naiknya indeks kepercayaan konsumen di bulan Maret.

Melansir dari CNBC, Rabu (29/3/2017), data kepercayaan konsumen melonjak pada bulan ini menjadi 125,6, naik dari posisi Februari kemarin di angka 116,1. “Ekonomi AS itu 70 persen berbasis konsumen, sehingga angka-angka ini penting,” kata Kim Forrest, analis saham di Fort Pitt Capital.

Menguatnya angka indeks kepercayaan konsumen membuat Wall Street berhasil rebound setelah hampir delapan hari terkunci. Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup melesat 150,52 poin atau 0,73% menjadi 20.701,50, dengan saham Apple memimpin penguatan. Sedangkan saham consumer goods Johnson & Johnson mengalami tekanan.

Indeks S & P 500 naik 16,98 poin atau 0,73% menjadi 2.358,57, dengan sektor saham keuangan memimpin penguatan. Indeks Nasdaq menguat 34,77 poin atau 0,60% ke level 5.875,14.

Investor pun kini terus mengalihkan pandangan ke Washington, terutama terkait usulan kunci Presiden Donald Trump soal reformasi pajak, deregulasi pemerintah. Pasalnya, penolakan Kongres yang dimotori oleh Partai Demokrat untuk menggagalkan layanan kesehatan dari Trump menggantikan Obamacare, bisa menyulitkan pemulihan ekonomi AS.

Penolakan layanan kesehatan dari Trump ini membuat investor gelisah apakah agenda ekonomi Trump akan mampu bergerak maju. Namun, Kepala Strategi Pasar di ConvergEx, Nicholas Colas mengatakan agenda ekonomi Presiden sangat penting dan menentukan. “Suka atau tidak, Presiden Donald Trump merupakan iterasi terbaru yang datang untuk memulihkan perekonomian,” ujarnya. ( okezone.com )