Peluncuran Rudal Korea Utara, Harga Emas Naik

emas-dan-faktanya-19-02-2016-15-52-12RIFANFINANCINDO – Harga emas mampu bangkit dari posisi terendah dalam tujuh pekan pada perdagangan Selasa. Kenaikan harga emas tersebut usai Korea Utara menembakkan rudal ke perairan Jepang.

Mengutip Reuters, Rabu (5/7/2017), harga emas di pasar spot naik 0,3 persen menjadi US$ 1.223,60 per ounce. Sementara harga emas berjangka naik juga 0,3 persen menjadi US$ 1.223 per ounce.

Korea Utara kembali melakukan uji rudal misil. Melalui media pemerintah, Korea Utara mengonfirmasi telah sukses melakukan uji coba misil jarak jauh lintas benua (ICBM) atas perintah Kim Jong-un, pada Selasa 4 Juli 2017.

Uji coba ICBM yang dilaksanakan pada Selasa pagi waktu setempat itu mencapai ketinggian hingga melebihi 2.500 km, menurut laporan Kementerian Pertahanan Jepang.

Misil itu diluncurkan dari Paghyon, Provinsi Pyongan Utara, dan terbang selama 40 menit sejauh 930 km ke Laut Jepang. Misil itu kemudian jatuh di perairan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Nippon yang kira-kira berjarak 200 nautikal mil dari garis pantai.

Peluncuran rudal ini dilakukan beberapa hari sebelum para pemimpin dunia yang tergabung daam kelompok G20 melakukan pertemuan untuk membahas langkah-langkah pengendalian program senjata Pyongyang.

Di saat ada ketegangan politik seperti ini, harga emas pun diuntungkan. Emas akan menjadi pilihan para pelaku pasar sebagai instrumen safe haven. Para pelaku pasar cenderung menjual kepemilikan akan aset-aset yang berisiko.

“Pasar beralih ke emas karena konflik di Korea Utara,” kata analis senior Danske Bank Jens Pardersen. “Namun harga emas tidak langsung terdorong tinggi karena konflik ini sudah berlangsung cukup lama,” tambah dia.

Pada perdagangan sehari sebelumnya atau pada Senin kemarin, harga emas menyentuh level terendah sejak Mei. Pelemahan harga emas memang terjadi sejak Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve (the Fed) mengumumkan kenaikan suku bunga acuan.

Dalam enam bulan terakhir ini, harga emas memang sempat menguat cukup tajam pada tiga bulan pertama atau pada kuartal I. Namun kemudian pada kuartal II harga emas terombang-ambing dan akhirnya tertekan di tengah Juni.

Produksi Diperkirakan Turun, Harga Minyak Dekati US$ 50 per Barel

Harga minyak bergerak di dua arah pada perdagangan Selasa namun kemudian ditutup melemah tipis. Salah satu pendorong kenaikan harga minyak adalah pelaku pasar melihat ada kemungkinan penurunan produksi minyak mentah AS.

Mengutip Reuters, Rabu (5/7/2017), harga minyak Brent yang menjadi patokan harga internasional turun 0,7 persen menjadi US$ 49,61 per barel. Sedangkan harga minyak berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan naik 1 sen menjadi US$ 47,08 per barel.

Harga minyak AS diperdagangkan lebih rendah di awal sesi karena banyaknya pedagang yang menutup posisi jelang libur Hari Kemerdekaan AS pada 4 Juli. Sementara harga minyak Brent juga mengalami hambatan karena telah mendekati angka US$ 50 per barel.

Prospek harga minyak secara perlahan mulai berubah. Semula, pada akhir Mei hingga Juni pelaku pasar sangat yakin bahwa harga minyak bakal terus tertekan karena meningkatnya jumlah produksi minyak mentah di AS.

Pelaku pasar menyangsikan bahwa usaha pemangkasan produksi yang dilakukan oleh organisasi negara pengekspor minyak (OPEC) dan beberapa negara lain di luar OPEC bakal terganggu dengan peningkatan produksi minyak di AS tersebut.

Namun mendekati akhir Juni, pandangan dari pelaku pasar sedikit berubah. Data yang ada menunjukkan bahwa produksi minyak mentah AS mulai mengalami penurunan sehingga mampu mendorong kenaikan harga minyak secara perlahan.

“Fakta bahwa tidak ada banyak tekanan pada akhir bulan menjelaskan bahwa terjadi pergeseran sentimen,” jelas laporan Commerzbank.

Hasil survei Reuters menunjukkan bahwa harga minyak mengalami kenaikan dalam beberapa hari terakhir meskipun produksi OPEC mencapai level tertinggi di 2017 yaitu di 32,72 juta barel per hari pada Juni lalu.

Upaya beberapa negara OPEC untuk menyeimbangkan harga pasar telah dirusak oleh meningkatnya produksi dari Libya dan Nigeria yang memang tidak masuk atau dibebaskan dari kesepakatan pemotongan produksi.

Sumber : liputan6.com