Pelan-pelan Dolar Australia Naik

5f836a02-653a-4058-8a6a-41a47b430b85_169RIFAN FINANCINDO – Pada pekan lalu dolar Australia menyentuh level terendah dalam 8 bulan terakhir melawan rupiah. Sejak saat itu, pelan-pelan Mata Uang Negeri Kanguru ini menguat termasuk pada hari ini, Selasa (27/7/2021).

Di awal perdagangan hari ini, dolar Australia sempat turun 0,22%, sebelum berbalik menguat tipis ke Rp 10.689,93/AU$ pada pukul 11:23 WIB. Kemarin, dolar Australia juga menguat tipis 0,12%. Sementara level terendah 8 bulan Rp 10.582,18/AU$ disentuh pada Rabu (21/7/2021).

Melihat rendahnya posisi dolar Australia, serta perekonomian global termasuk Indonesia yang dipenuhi ketidakpastian tentu saja memicu aksi beli.

Lonjakan kasus penyakit virus corona (Covid-19) di berbagai negara membuat prospek pertumbuhan ekonomi terpangkas. Australia sudah lebih dulu mengalami ketimbang Indonesia, lockdown dilakukan di Sidney, Melbourne dan South Australia pada akhir Mei lalu. Perekonomian Australia pun diprediksi akan melambat di kuartal III-2021, bahkan berisiko mengalami kontraksi lagi.

Alhasil, kurs dolar Australia terus melemah melawan rupiah.

Sayangnya, lonjakan kasus Covid-19 yang lebih parah menghantam Indonesia, pemerintah kemudian memperketat Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) sejak 3 Juli lagu, dan baru sedikit dilonggarkan sejak Senin kemarin.

Meski pelonggaran sudah dilakukan, tetapi pelambatan ekonomi tidak akan pergi. Pada pekan lalu Bank Indonesia (BI) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini.

“Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan ekonomi pada tahun 2021 menjadi 3,5-4,3% dari proyeksi sebelumnya 4,1-5,1%,” ungkap Perry Warjiyo, Gubernur BI, dalam jumpa pers usai RDG.

Sejumlah institusi juga merevisi ke bawah perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Moody’s Analytics, misalnya, memotong proyeksi pertumbuhan ekonomi Tanah Air dari 6,1% menjadi 4,5%.

“Memasuki kuartal III, belum jelas bagaimana lonjakan kasus Covid-19 akan mempengaruhi kinerja ekonomi. Namun kami memperkirakan Indonesia akan mengalami pukulan keras. Ini membuat proyeksi pertumbuhan ekonomi yang sudah direvisi menjadi 4,5% pun menjadi sangat berisiko.

“Di Indonesia, konsumsi rumah tangga adalah penyumbang terbesar dalam pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB). Oleh karena itu, perbaikan di sisi ekspor tidak akan banyak membantu secara agregat,” papar Katrina Ell, Ekonom Moody’s Analytics, dalam risetnya.

 

Sumber : cnbcindonesia