PDB Tahun 2020 Diramal Minus

4f116bb2-3f89-4e96-91d2-667563181da5_169RIFAN FINANCINDO – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memperkirakan pertumbuhan ekonomi sepanjang 2020 yang akan dirilis pekan depan akan berada pada kisaran -2,2% hingga -1,7%.

Sedangkan untuk pertumbuhan ekonomi pada kuartal terakhir masih jauh lebih baik dibandingkan dengan kuartal ketiga 2020, yakni diperkirakan sebesar -2,9% hingga -0,9%.

Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Suahasil Nazara mengatakan prediksi pertumbuhan ekonomi dari International Monetary Fund (IMF) mengenai prediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun lalu bahkan sedikit lebih baik yakni di angka -1,5%.

“Kalau Kemenkeu memperkirakan pertumbuhan ekonomi 2020 -2,2% sampai -1,7%. Dan tentu kita tunggu BPS [Badan Pusat Statistik] yang keluarkan angka pertumbuhan ekonomi ini beberapa hari lagi mungkin minggu depan. Untuk APBN 2021 pemerintah menggunakan asumsi pertumbuhan ekonomi 5,0%,” kata Suahasil dalam BRI Group Economic Forum 2021, Kamis (28/1/2021).

Dia mengungkapkan, prediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia ini dinilai jauh lebih baik ketimbang dengan kontraksi ekonomi yang terjadi di beberapa negara di kawasan seperti Malaysia, Filipina, Singapura dan Thailand yang kontraksinya di kisaran -6% hingga -8% di tahun lalu.

Pertumbuhan ekonomi tersebut, dinilai lebih baik lantaran adanya stimulus yang digelontorkan pemerintah sepanjang tahun lalu untuk menahan penurunan perekonomian akibat pandemi tahun lalu, di mana pandemi ini berdampak pada turunnya aktivitas konsumsi, investasi serta terhambatnya kegiatan ekspor dan impor.

“Karena itu pertumbuhan ekonomi mengandalkan stimulus pemerintah. Saat pandemi ekonomi shrinking, penerimaan juga shrinking, sedangkan kita ga bisa kurangi belanja,” terang mantan Kepala Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu ini.

Dia menjelaskan, tahun lalu sumber pertumbuhan ekonomi paling besar berasal dari belanja pemerintah. Di tahun lalu pendanaan belanja negara ini sebesar 38,5% bersumber dari utang negara, namun dia menegaskan bahwa saat ini kenaikan utang masih dalam batas yang masih sehat.

“Nah dibanding negara lain dimana kenaikan utang jauh lebih tinggi, defisit lebih dalam, tapi kontraksi pertumbuhan ekonomi juga lebih dalam,” terangnya.

Sebelumnya, Dana Moneter Internasional atau IMF memprediksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mengalami kontraksi sebesar -1,5% di tahun 2020.

Tahun ini, berdasarkan perkiraan IMF, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Indonesia akan berada di 4,8% lebih besar 40 basis poin (bps) ketimbang perkiraan Bank Dunia di 4,4%.

Untuk tahun 2022, IMF bahkan lebih optimistis dari Bank Dunia. Ekonomi RI diproyeksi tumbuh di angka 6% tahun 2022 sementara ramalan Bank Dunia menyebutkan pertumbuhan PDB RI tahun depan di angka 4,8%.

 

Sumber : cnbcindonesia