Pasar Saham Mendorong Kekayaan Orang Kaya Amerika

RIFAN FINANCINDO BERJANGKA – Sebuah studi dari The Tax Policy Center (TPC) atau lembaga kebijakan pajak AS yang diprakarsai oleh The Urban Institute dan Brookings Institution menunjukkan hal menarik mengenai asal pertumbuhan kekayaan para miliarder di Amerika Serikat (AS).

Studi TPC mengamati fenomena pembayaran pajak berdasarkan golongan tingkat pendapatan masyarakat yang berbeda-beda. Semakin besar pembayaran pajak seseorang, umumnya pertumbuhan kekayaannya bersumber dari capital gain (keuntungan) investasi sang wajib pajak, baik di portofolio saham dan yang lainnya.

TPC menyatakan, pada tahun 2012 wajib pajak yang memiliki pendapatan di bawah 500.000 dollar AS, sebagian besar atau 75 persen mengandalkan pemasukan dari gaji dan upah saja. Saat pendapatan mereka di kisaran 500.000 dollar AS hingga 1 juta dollar AS, hanya setengah dari golongan tersebut umumnya mengandalkan sumber pemasukan dari gaji dan upah.

Yang menarik, jika sang wajib pajak memiliki penghasilan di atas 10 juta dollar AS, bisa dipastikan hanya 15 persen saja yang mengandalkan pendapatannya dari gaji dan upah. Dari golongan ini, mayoritas atau lebih dari 50 persen mendapat harta berlimpah dari keuntungan perdagangan saham di bursa. Sedangkan, selebihnya mendapat pendapatan dari kegiatan usaha, bunga dan dividen.

Meski demikian, Roberton Williams dari TPC menyatakan, para miliarder ini tidak melulu hanya ongkang-ongkang kaki menunggu harga portofolio investasinya bertumbuh. “Banyak dari orang berpenghasilan 10 juta dollar AS ke atas tidak memperoleh hasil yang besar pada tahun-tahun berikutnya,” tutur Williams di CNBC edisi Kamis (9/4/2014).

Williams mengatakan, pendapatan besar yang mereka peroleh hingga bernilai di atas 10 juta itu biasanya didapat hanya sesekali dan selalu mengarah pada capital gain. “Banyak orang mencapai tingkat pendapatan yang tinggi setelah mereka menjual aset (saham) yang telah dikumpulkan dan disimpan selama bertahun-tahun sebelumnya,” imbuh Williams.

Kondisi ini juga bisa dicermati pada sejumlah golongan. Misalnya, menurut Williams, hal tersebut tampak pada sekitar 1 persen wajib pajak berpenghasilan lebih dari 10 juta dollar AS, yang berlangsung sekitar 10 tahun sekali.

Oleh sebab itu, Pemerintah AS sendiri kini sedang menggagas kenaikan besaran setoran pajak dari capital gain milik wajib pajak. Beban pajak atas capital gain yang semula dikutip sebesar 20 persen, direncanakan akan dinaikkan menjadi 24,2 persen pada tahun ini.

Alasannya sederhana, lantaran capital gain hanya terjadi sekali saja dalam seumur hidup. Berdasarkan laporan CNBC awal Maret lalu, dari hasil studi Spectrum Group (Spectrum) mengabarkan, berkat lonjakan harga saham dan properti telah menciptakan 500.000 jutawan baru AS pada tahun 2014.

Data Spectrum menunjukkan, sebanyak 10,1 juta penduduk AS memiliki aset properti di atas 1 juta dollar AS. Jumlah itu masih di luar aset properti inti para jutawan tersebut. Jumlah orang tajir ini meningkat 9,6 persen dari tahun 2013. Sementara jumlah orang kaya pemilik aset senilai 25 juta dollar AS di AS tahun 2014, naik dari 132.000 menjadi 142.000 orang. Angka ini sekaligus menjadi puncak sejak krisis ekonomi 2008.

Sumber : http://bisniskeuangan.kompas.com