Outlook ekonomi Asia semakin gelap

A bird flies across central Mumbai's financial district skyline, India, June 18, 2019. REUTERS/Francis MascarenhasRIFAN FINANCINDO – Dengan meningkatnya tensi ketegangan perang dagang Amerika Serikat dengan China telah menggelapkan outlook ekonomi negara-negara berkembang di kawasan Asia. Asian Development Bank mengatakan, pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia diprediksi akan melambat dari ramalan sebelumnya.

Negara-negara berkembang di Asia terdiri dari 45 negara di seluruh Asia dan Asia Pasifik. Menurut ADB, pertumbuhan ekonomi kawasan ini kemungkinan hanya akan tumbuh 5,4% tahun ini dan 5,5% tahun depan. Prediksi itu turun dari perkiraan pertumbuhan yang dibuat pada Juli sebesar 5,7% dan 5,6%.

Dalam laporan terbarunya, ADB mengatakan bahwa pertumbuhan di wilayah Asia Pasifik adalah 5,9% pada 2018. “Konflik dagang antara Republik Rakyat Tiongkok dengan AS bisa berlanjut  hingga 2020. Sementara, negara-negara ekonomi besar kemungkinan harus berjuang lebih keras dibanding yang kita antisipasi saat ini,” jelas Yasuyuki Sawada, kepala ekonom ADB, seperti yang dikutip Reuters.

Perselisihan antara dua ekonomi terbesar di dunia sudah berlarut-larut selama lebih dari setahun. Kedua negara menaikkan tarif dengan nilai miliaran dollar untuk barang-barang produksi masing-masing negara. Pembicaraan tingkat tinggi antara keduanya dijadwalkan awal Oktober.

ADB melihat, perekonomian China mungkin akan tumbuh 6,2% tahun ini. Angka ini lebih lemah dari proyeksi 6,3% pada bulan Juli. Pertumbuhan di China daratan diproyeksikan akan melambat lebih lanjut menjadi 6,0% pada tahun 2020. Adapun China menargetkan pertumbuhan ekonominya bisa mencapai 6,0% hingga 6,5% pada 2019.

Seiring dengan melemahnya momentum perdagangan, ADB juga melihat penurunan investasi sebagai risiko utama bagi prospek pertumbuhan ekonomi kawasan. Jika dilihat berdasarkan sub-wilayah, Asia Selatan akan tetap mengalami pertumbuhan paling cepat di Asia Pasifik, meskipun setelah ADB memangkas prospek 2019 menjadi 6,2% dari sebelumnya 6,6%.

Di sini, ADB juga memangkas estimasi pertumbuhannya untuk India menjadi 6,5% dari sebelumnya 7,0%. Di sisi lain, ADB mempertahankan proyeksi pertumbuhan India sebesar 7,2% untuk tahun depan.

Pertumbuhan ekonomi Asia Tenggara juga diperkirakan melambat di akhir 2019 menjadi 4,5% dibandingkan dengan perkiraan sebelumnya 4,8%. Padahal pada tahun lalu, pertumbuhannya mencapai 5,1%.

Tak hanya itu, kata ADB, negara-negara berkembang Asia juga harus berurusan dengan kenaikan harga makanan. Alhasil, prakiraan inflasi 2019 dan 2020 untuk kawasan ini naik menjadi 2,7% dari sebelumnya 2,6%.

 

Sumber : kontan