Orang Kidal Lebih Pintar Benarkah?

479653241RIFAN FINANCINDO – Sekitar 10% dari populasi global adalah orang kidal. Orang kidal adalah orang yang menggunakan tangan kiri mereka untuk melakukan berbagai kegiatan, seperti menulis, makan, olahraga, dan untuk mengambil sesuatu.

Orang kidal seringkali dianggap istimewa dan lebih pintar. Apalagi, banyak tokoh yang ternyat adalah orang kidal. Misalnya, tiga dari enam presiden Amerika terakhir adalah orang kidal, yaitu George H.W. Bush, Bill Clinton, dan Barack Obama.

Selain itu menurut laporan The New York Times, sederet figur publik ternama juga kidal, seperti Michelangelo, Leonardo da Vinci, Paul McCartney, David Bowie, Jimi Hendrix, James Baldwin, Nikola Tesla, Oprah Winfrey, Bill Gates hingga Steve Jobs.

Lalu, benarkah orang kidal lebih pintar?

Untuk menyelidiki pertanyaan ini, para peneliti melihat perbedaan dalam prestasi matematika antara lebih dari 2.300 siswa kidal dan tidak, antara usia 6 hingga 17 di Italia.

Melansir Live Science, menurut studi tahun 2017 di jurnal Frontiers, meskipun tidak ada perbedaan ketika melihat masalah matematika yang lebih mudah, siswa kidal memiliki keunggulan signifikan pada masalah yang lebih sulit, seperti mengasosiasikan fungsi matematika ke sekumpulan data.

Studi tersebut dipimpin oleh Giovanni Sala, asisten profesor di Institute for Comprehensive Medical Science di Fujita Health University di Jepang.

Tapi, mengapa tangan dominan seseorang ada hubungannya dengan kemampuan matematika?

Tampaknya, ini karena orang kidal dikaitkan dengan beberapa perbedaan mengejutkan dalam arsitektur otak.

Sebuah meta-analisis tahun 1995 dari 43 studi dalam jurnal Psychobiology menetapkan, bahwa orang kidal memiliki corpus callosum yang jauh lebih besar – kumpulan serabut saraf yang menghubungkan dua belahan otak – daripada orang yang tidak kidal.

“Kemungkinan bahwa hubungan yang lebih kuat antara dua belahan otak, memungkinkan subjek (kidal) memiliki kemampuan spasial yang lebih kuat,” kata Sala, yang melakukan penelitiannya saat di University of Liverpool di Inggris.

“Dan kita tahu bahwa kemampuan spasial terhubung dengan matematika, karena matematika sering dikonseptualisasikan di seluruh ruang,” imbuhnya.

Sala mengatakan, kidal dapat menjadi keuntungan dan kerugian tergantung pada apa penyebabnya. Kidal dapat disebabkan oleh beberapa jenis kerusakan otak, sehingga belahan otak kanan harus mengambil alih saat ada semacam kerusakan otak di belahan kiri.

Sebuah penelitian tahun 1985 di jurnal Brain and Cognition menyebutkan, jenis kerusakan ini dapat disebabkan oleh lesi hemisfer (belahan otak) yang terjadi sebelum lahir.

Jika lesi terjadi di belahan otak kiri, maka ini dapat menyebabkan individu tersebut lebih banyak menggunakan belahan kanan otaknya.

Tapi, karena belahan otak diindeks silang (artinya belahan kiri mengontrol sisi kanan tubuh, dan sebaliknya), belahan otak kanan yang dominan dapat menyebabkan kidal.

Studi ini menyebut kondisi itu, sebagai kidal patologis, dan mencatat bahwa hal itu dapat menyebabkan kesulitan belajar. Dengan kata lain, terkadang menjadi kidal justru dikaitkan dengan masalah belajar.

Namun, penelitian Sala melukiskan gambaran orang kidal di bagian bawah dan atas spektrum kognitif.

“Begitu Anda melihat bahwa subjek tidak tertantang secara intelektual, maka kidal tampaknya menjadi prediktor kemampuan intelektual, khususnya kemampuan matematika,” kata Sala.

Sementara sebuah studi tahun 2017 di jurnal Neuroscience and Behavioral Review, meninjau 18 penelitian lain yang mencakup data lebih dari 20.400 orang dan menemukan, bahwa orang tidak kidal (yang memakai tangan kanan) memiliki IQ yang jauh lebih tinggi daripada rata-rata orang kidal.

Kidal dan penyakit

Orang kidal tidak selalu dilihat secara positif. Zaman dahulu, dalam pamflet tahun 1936 “The Prevention and Correction of Left-Handedness in Children,” oleh J.W. Conway, kidal digambarkan sebagai penyakit yang serius dan bermasalah seperti rakhitis (kelainan pertumbuhan tulang pada anak) dan pneumonia.

Bahkan, penelitian modern mengakui beberapa kelemahan dari persuasi kidal. Secara statistik dikaitkan dengan skizofrenia, disleksia, dan kanker payudara, meski belum ditemukan bukti jelas adanya kaitan bahwa yang satu menyebabkan yang lain.

Sumber : kompas