OPEC Belum Jelas, Harga Minyak Lemas

minyak 2RIFAN FINANCINDO – Harga minyak mentah dunia kembali melemah pada penutupan perdagangan kemarin, Selasa (28/11), waktu Amerika Serikat (AS). Ketidakpastian terhadap hasil pertemuan Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) pekan ini menjadi pemicunya.

Dilansir dari Reuters, Rabu (29/11), harga minyak mentah acuan Brent merosot US$0,23 atau 0,4 persen menjadi US$63,61 per barel. Harga minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) juga turun tipis US$0,12 atau 0,2 persen menjadi US$57,99, setelah melorot 1,4 persen pada sesi perdagangan sebelumnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, sejak Januari 2017 lalu, OPEC, Rusia, dan sejumlah negara produsen minyak lainnya, sepakat memangkas produksi minyak 1,8 juta barel per hari (bph).

Hal ini dilakukan untuk mengurangi pasokan minyak dunia dan pada akhirnya bisa mendongkrak harga. Kesepakatan ini rencananya berakhir pada Maret 2018.

Dalam pertemuan OPEC yang akan digelar Kamis ini, OPEC akan membahas kemungkinan perpanjangan komitmen pemangkasan tersebut.

Arab Saudi, selaku pimpinan, mendorong kebijakan tersebut diperpanjang menjadi sembilan bulan. Sementara, Rusia ragu-ragu untuk memperpanjang kesepakatan tersebut karena takut pasar bisa terlalu panas (overheat).

Sementara produksi minyak dari proyek Far Eastern Sakhalin-1 milik Rusia bakal meningkatkan produksi sekitar seperempatnya dari saat ini mulai Januari. Hal ini memberikan sinyal bahwa Rusia bakal kesulitan untuk mengikuti perpanjangan komitmen hingga akhir tahun depan.

Di sisi lain, komite teknis gabungan antara OPEC dan non-OPEC menyarankan untuk memperpanjang komitmen pemangkasan hingga akhir tahun depan, dengan opsi pengkajian kembali di Juni 2018.

Menteri Perminyakan Irak mengatakan pihaknya mendukung rencana perpanjangan pemangkasan produksi sementara, lawannya di Kuwait menyatakan belum ada kesepakatan terkait berapa lama kemungkinan durasi perpanjangan.

“Kami meyakini hasil dari pertemuan OPEC lebih tidak pasti dibandingkan biasanya,” ujar analis Goldman Sachs. Kepala Riset Komoditas Citigroup Ed Morse memperkirakan OPEC hanya akan memperpanjang kesepakatan tersebut hanya sampai pertengahan tahun depan. Namun, berapapun jangka waktunya, harga bakal turun jika perpanjangan tidak dilakukan hingga akhir 2018.

Sentimen serupa dibenarkan oleh Standard Chartered, yang menyatakan apapun keputusan yang diluar perkiraan bakal menimbulkan kebingungan di pasar minyak.

“Kami pikir pasar minyak telah memasukkan rencana perpanjangan komitmen pemangkasan OPEC dan non-OPEC hingga akhir 2018 ke dalam harga,” ujar Standard Chartered.

Konsultan Wood Mackenzie memperkirakan jika pemangkasan produksi berakhir pada Maret 2018, maka akan ada tambahan pasokan minyak dunia sekitar 2,4 juta bph untuk tahun depan. Harga minyak mentah AS Jumat lalu sempat menyentuh US$59,05 per barel, tertinggi sejak pertengahan 2015, dipicu oleh berhentinya operasional pada pipa minyak Keystone, salah satu pipa penyalur minyak utama dari Kanada ke AS.

Namun, TransCanada Corp, operator Keystone, menyatakan pipa berkapasitas 590 bph ini telah beroperasi kembali pada Selasa lalu, dengan tekanan yang dikurangi. Juru bicara perusahaan mengaku tidak tahu kapan regulator AS bakal mengizinkan pipa untuk beroperasi dalam kapasitas penuh. Polling analis yang mendahului laporan American Petroleum Institute (API) mengestimasi bahwa pasokan minyak mentah AS bakal merosot 2,3 juta barel pada pekan yang berakhir pada 24 November lalu.

Selain kekhawatiran terhadap hasil pertemuan OPEC, harga minyak mentah juga sempat mendapatkan tekanan pasca terjadinya kebakaran di kilang Exxon Mobil Corps Beaumont, Texas, yang memiliki kapasitas 362,3 ribu bph). ( cnnindonesia.com )