Neraca Dagang Agustus 2020 Surplus

5ef940fe4fecaRIFAN FINANCINDO – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia surplus 2,3 miliar dollar AS pada Agustus 2020. Mencakup kinerja ekspor 13,07 milliar dollar AS atau turun 8,36 persen dari periode sama di tahun lalu yang sebesar 14,26 miliar dollar AS. Sementara impor sebesar 10,74 miliar dollar AS atau anjlok 24,19 persen dari tahun sebelumnya yang sebesar 10,76 miliar dollar AS.

Menteri Perdagangan Agus Suparmanto mengatakan, neraca perdagangan bulan lalu dipengaruhi melemahnya permintaan global sehingga menekan kinerja ekspor. Namun, penurunan nilai ekspor yang terjadi relatif rendah dibandingkan penurunan volumenya.

“Sehingga, hal ini mengindikasikan bahwa kinerja ekspor Indonesia masih tertolong dengan harga komoditas global yang relatif baik. Selain itu, surplus neraca perdagangan ini turut membantu pergerakan rupiah ke level yang positif,” ujar Agus dalam keterangan tertulis, Kamis (17/9/2020).

Ia mengatakan, neraca perdagangan bulan lalu juga menjadi penopang peningkatan nilai neraca dagang secara kumulatif Januari-Agustus 2020 yang mencapai 11,1 miliar dollar AS.

Nilai tersebut hampir menyamai nilai neraca perdagangan untuk keseluruhan tahun 2017 yang sebesar 11,8 miliar dollar AS. Ia bilang, hal itu merupakan raihan tertinggi neraca perdagangan Indonesia sejak 2012.

“Kesemuanya ini mengindikasikan kinerja perdagangan Indonesia masih dalam jalur yang benar mendukung perbaikan kinerja ekonomi nasional di tengah ketidakpastian perekonomian global akibat pandemi Covid-19,” kata dia.

Agus menjelaskan, dari sisi kinerja ekspor, jika dibandingkan dengan Juli 2020 yang sebesar 13,07 miliar dollar AS, maka terjadi penurunan sebesar 4,6 persen. Utamanya penurunan terjadi pada ekspor non migas sebesar 4,4 persen menjadi 12,46 miliar dollar AS.

Ia mengatakan, penurunan ekspor nonmigas pada Agustus 2020 dipicu oleh menurunnya ekspor beberapa komoditas utama Indonesia, seperti lemak dan minyak hewan/nabati, bahan bakar mineral, dan logam mulia, perhiasan/permata.

Penurunan nilai ekspor bahan bakar mineral disebabkan adanya penurunan harga batu bara. Sedangkan, penurunan produk lemak dan minyak hewan/nabati dikarenakan adanya penurunan permintaan impor di China yang merupakan negara tujuan ekspor produk crude palm oil (CPO) Indonesia.

Sementara itu, beberapa produk ekspor nonmigas justru mengalami pertumbuhan bulanan yang signifikan, yaitu bijih, terak, dan abu logam (HS 26), barang dari besi dan baja (HS 73), serta kendaraan dan bagiannya (HS 87).

Peningkatan nilai ekspor bijih, terak, dan abu logam, terutama dipicu oleh lonjakan ekspor biji tembaga dan konsentratnya sebesar 74,92 persen. Adapun ekspor produk non migas ini paling banyak ditujukan ke China.

“Berdasarkan negara tujuan, ekspor nonmigas ke Inggris, Vietnam, Taiwan, Italia, dan Thailand juga naik secara signifikan. Optimisme dan sentimen positif dari sisi konsumen dan pelaku usaha di beberapa negara tersebut mendorong adanya peningkatan aktivitas bisnis,” kata Agus.

Secara kumulatif, nilai ekspor nonmigas Januari-Agustus 2020 juga turun 4,4 persen dibandingkan periode Januari-Agustus 2019 (yoy). Sedangkan, volumenya turun lebih tajam hingga 11,7 persen.

Kendati demikian, Agus menilai, kinerja ekspor Indonesia masih relatif diuntungkan dengan harga-harga komoditas global yang tidak ikut anjlok. Harga rata-rata kelompok komoditas nonenergi global pada periode Januari-Agustus 2020 hanya turun 1,7 persen yoy.

Hal itu lebih baik dibandingkan harga kelompok komoditas energi yang turun dalam hingga 34,5 persen yoy.

Impor

Sementara itu, dari sisi kinerja impor pada Agustus 2020 mengalami kenaikan 2,6 persen jika dibandingkan Juli 2020 yang sebesar 10,46 miliar dollar AS. Kenaikan disebabkan impor pada golongan barang konsumsi dan bahan baku/penolong.

Beberapa bahan baku/penolong yang mengalami peningkatan antara lain emas naik 45,2 persen, besi baja naik 23,3 persen, serealia naik 30,4 persen, serta plastik dan barang dari plastik naik 7,9 persen. Adapun meningkatnya impor emas disebabkan naiknya harga emas dan logam mulia.

“Harga emas pada Agustus 2020 tercatat naik 6,6 persen dibandingkan Juli 2020. Sementara kenaikan impor serealia untuk pemenuhan kebutuhan bahan baku industri pengolahan makanan dan minuman,” ungkap Agus.

Secara kumulatif Januari-Agustus 2020 total impor turut turun 18,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Begitu pula dengan volume impornya yang turun sebesar 6,6 persen.

Produk yang mengalami penurunan impor terbesar selama Januari-Agustus 2020, antara lain mesin dan peralatan mekanis (HS 84), besi dan baja (HS 72), kendaraan dan bagiannya (HS 87), plastik dan barang dari plastik (HS 39), serta mesin/peralatan listrik (HS 85).

“Penurunan impor kendaraan disebabkan berkurangnya permintaan akibat pembatasan social berskala besar (PSBB). Sedangkan, penurunan impor besi dan baja, maupun mesin-mesin/pesawat mekanis merupakan imbas dihentikannya proyek infratruktur selama masa pandemi Covid-19,” papar Agus.

 

Sumber : kompas

Leave a Reply