Morgan Stanley Revisi Ekonomi Indonesia

5fdb2213ae043RIFAN FINANCINDO – Morgan Stanley merevisi ke bawah (revise down) pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2021. Dalam laporan terbarunya berjudul Asia Economic Mid-Year Outlook, Morgan Stanley merevisi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2021 mencapai 4,5 persen secara tahunan (year on year).

Sebelumnya, lembaga ini memproyeksikan ekonomi Indonesia mampu tumbuh hingga 6,2 persen.

Ekonom Asia Morgan Stanley, Deyi Tan mengatakan, menyusutnya prediksi pertumbuhan ekonomi di banyak negara Asia termasuk Indonesia karena masih ada pembatasan sosial yang lebih ketat.

Hal ini tentu berimplikasi pada segmen industri yang perlu terjadi kontak fisik secara intensif, seperti hotel dan restoran, tempat hiburan umum, layanan perawatan pribadi, hingga gym.

“Adanya kemungkinan hambatan permintaan domestik lebih lanjut pada kuartal II 2021, kami perkirakan terjadi pertumbuhan lebih rendah di pasar, terutama untuk negara-negara berkembang di Asia,” ucap Deyi dalam konferensi pers, Selasa (18/5/2021).

Adapun pertumbuhan yang diproyeksi menurun itu tak lepas dari pertumbuhan ekonomi negatif di kuartal I dan proyeksi pertumbuhan di kuartal-kuartal selanjutnya.

Morgan Stanley memproyeksi, pertumbuhan ekonomi RI di kuartal II 2021 mencapai 6,5 persen setelah sebelumnya terkontraksi 0,7 persen di kuartal I.

Pertumbuhan itu dipengaruhi oleh faktor low base effect pada kuartal II 2020 yang mencatat kontraksi dalam -5,32 persen. Oleh karena itu di kuartal III, pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi kembali menyusut tipis sebesar 6,3 persen, dan 6,2 persen di kuartal IV 2021.

Kemudian pada tahun 2022, PDB RI diproyeksi tumbuh 6 persen pada kuartal I 2022, kemudian kian menyusut di kuartal II dan seterusnya masing-masing 5,3 persen, 5,2 persen, dan 5,2 persen.

Dengan demikian, ekonomi RI tumbuh 5,4 persen (yoy) pada tahun 2022, dari yang sebelumnya diprediksi 5,5 persen (yoy).

Deyi mengungkap, proyeksi mempertimbangkan situasi Covid-19 yang mungkin saja memburuk. Jika gelombang baru Covid-19 di beberapa negara mengarah pada kenaikan angka rawat inap, hal itu dapat menyebabkan lockdown dan membebani permintaan domestik.

“Apalagi muncul varian baru Covid-19 yang tahan terhadap arus vaksinasi,” tuturnya.

Lebih lanjut morgan stanley memproyeksi pertumbuhan ekonomi negara-negara di Asean mencapai 5,4 persen (yoy) dari sebelumnya 7,4 persen (yoy). Sementara untuk negara Asia kecuali Jepang, ekonomi tumbuh 8,4 persen (yoy) dari sebelumnya 8,9 persen (yoy).

 

Sumber : kompas