Minyak Tersungkur di Bawah $45

RIFANFINANCINDO

RIFANFINANCINDO

RIFANFINANCINDO – Harga minyak merosot di sesi perdagangan Eropa pada hari Rabu (31/8), menyentuh dua minggu terendah dengan pelaku pasar menunggu informasi mingguan baru stok minyak mentah AS dan produk olahan.

Badan Administrasi Informasi Energi AS akan merilis laporan mingguan persediaan minyak pukul 21.30 WIB di tengah harapan peningkatan 921.000 barel.

Persediaan bensin diperkirakan menurun 1.157 juta barel sementara stok sulingan, yang meliputi minyak bakar dan diesel, diperkirakan akan turun sebesar 157.000 barel, menurut analis.

Setelah pasar ditutup Selasa, American Petroleum Institute mengatakan bahwa persediaan minyak AS naik 942.000 barel dalam pekan yang berakhir 26 Agustus.

Hal itu juga menunjukkan penurunan sebesar 1,65 juta barel dalam stok bensin, sedangkan sulingan menunjukkan pelemahan sebesar 800.000 barel dalam seminggu.

Minyak mentah untuk pengiriman Oktober di Bursa Perdagangan New York merosot ke sesi terendah $45,75 per barel, level yang tidak terlihat sejak 15 Agustus. Harga terakhir berada di $46,16 pukul 14.04 WIB, turun 19 sen, atau 0,41%.

Sehari sebelumnya, minyak berjangka New York diperdagangkan merosot 63 sen, atau 1,34%, akibat dolar AS yang menguat luas dan kekhawatiran kelebihan pasokan membebani sentimen.

Sementara itu, di Bursa Berjangka ICE London, minyak Brent untuk pengiriman November merosot 32 sen, atau 0,66%, diperdagangkan pada $48,41 per barel setelah menyentuh terendah harian $48,38, terlemah sejak 16 Agustus.

Pada hari Selasa, Brent London diperdagangkan kehilangan 72 sen, atau 1,46% di tengah memudarnya harapan pembekuan produksi dan kekhawatiran tentang produksi tambahan dari Timur Tengah dan Afrika yang membebani sentimen.

Kemungkinan minimal bahwa pertemuan mendatang antara produsen minyak utama di akhir September akan menghasilkan tindakan apapun untuk mengurangi banjirnya pasokan global setelah Menteri Energi Arab Saudi Khalid al-Falih mengatakan bahwa dia tidak percaya “intervensi signifikan” apapun di pasar minyak yang diperlukan.

Komentar tersebut dilaporkan datang menjelang pertemuan informal Organisasi Negara Pengekspor Minyak OPEC di Aljazair pada akhir bulan depan, di mana produsen minyak utama diperkirakan akan membahas potensi pembekuan produksi.

Namun, analis dan pedagang tetap skeptis bahwa pertemuan itu akan menghasilkan usaha yang koheren untuk mengurangi banjirnya pasokan global.

Harga minyak melonjak hampir $10 per barel, atau hampir 25%, dalam tiga minggu pertama bulan Agustus, akibat prospek pembekuan produksi oleh produsen utama pada pertemuan informal OPEC di Aljazair bulan depan yang memicu reli besar.

Sebuah usaha bersama-sama mempertahankan tingkat produksi awal tahun ini gagal setelah Arab Saudi mundur atas penolakan Iran dalam mengambil bagian dari inisiatif, menggarisbawahi kesulitan persaingan politik dalam menggabungkan konsensus.

Sumber : investing.com

RIFANFINANCINDO