Minyak Sentuh Level Tertinggi dalam 2 Tahun

Minyak-wti-naikRIFAN FINANCINDO – ┬áHarga minyak dunia sentuh level tertinggi dalam dua tahun usai penutupan salah satu jaringan pipa minyak mentah terbesar di Kanada. Ini memangkas pasokan ke Amerika Serikat (AS).

Perombakan pipa yang memasok 590 ribu barel per hari ditutup pada pekan lalu karena ada tumpahan yang dapat memakan waktu beberapa minggu untuk membenahinya. Operator TransCanada telah memberi tahu klien kalau pihaknya akan kurangi pengiriman yang menghubungkan dengan kilang AS Alberta hingga akhir November. Pemangkasan pengiriman dapat mencapai 85 persen.

Sentimen tersebut membuat harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) atau West Texas Intermediate (WTI) naik dua persen atau US$ 1,19 ke posisi US$ 58,02 per barel tertinggi sejak Juli 2015. Hal itu lantaran kekhawatiran berkurangnya persediaan di jalur pipa Keystone.

Ditambah American Petroleum Institute melaporkan, pasokan 6,4 juta barel minyak pada pekan lalu. Stok minyak di pusat pengiriman atau kilang Cushing, Oklahoma pun turun 1,8 juta barel. Hal itu berdasarkan data the US Energy Information Administration.

Harga minyak Brent juga ikut naik 75 sen atau 1,2 persen menjadi US$ 63,32 per barel. “Tingkat harga minyak saat ini dapat mendorong perusahaan Amerika Serikat hasilkan lebih banyak minyak yang akan tetap menjadi perhatian OPEC jelang pertemuan pada November ini,” ujar Abhishek Kumar, Analis Interfax Energy Global Gas Analytics, seperti dikutip dari laman Reuters, Kamis (23/11/2017).

Pada pekan ini, perusahaan energi AS menambahkan rig minyak. Drillers menambah sembilan rig minyak hingga 22 November. Berdasarkan data perusahaan energi General Electric Co’s Baker Hughes Energy menyatakan, total rig mencapai 747.

Keterbatasan pasokan mendorong penjualan minyak mentah lebih cepat ketimbang menyimpannya. Ini dapat mendorong ekspor minyak mentah. “Harga premium Brent atas minyak mentah WTI akan mendorong lebih banyak ekspor minyak Amerika Serikat dalam beberapa minggu mendatang,” kata Kumar dari Interfax.

Sementara itu, Wakil Presiden Direktur Tradition Energy Gene McGillian menuturkan, semakin banyak ekspor minyak dapat mengimbangi efek pemotongan produksi dari OPEC dan Rusia. Sentimen itu juga akan pengaruhi harga minyak.

Adapun perpanjangan pemangkasan produksi minyak oleh OPEC dan Rusia diputuskan pada pertemuan 30 November 2017. Pembatasan produksi minyak itu sebelumnya diputuskan berakhir Maret 2018.

“Ada konsensus menyatakan OPEC akan memperpanjang kesepakatan pemangkasan produksi pada akhir bulan. Keyakinan ini seiring kondisi geopolitik membuat harga minyak Brent dapat berada di posisi di atas US$ 60 per barel,” tulis laporan riset ING.

Riset itu juga menyebutkan kalau hasil pertemuan OPEC tidak memenuhi pasar akan mendorong aksi jual.

Perdagangan Kemarin

Sebelumnya, harga minyak naik pada penutupan perdagangan Selasa (Rabu pagi waktu Jakarta). Kenaikan harga minyak didukung oleh rencana perpanjangan pengurangan produksi organisasi negar eksportir minyak (OPEC). Namun, kenaikan harga minyak tak tinggi karena adanya tekanan dari tanda-tanda produksi di Amerika Serikat (AS) yang tinggi.

Mengutip Reuters, Rabu 22 November 2017, harga minyak Brent yang menjadi patokan harga dunia naik 17 sen menjadi US$ 62,39 per barel. Sedangkan minyak mentah AS berada di US$ 56,72per barel atau naik 30 sen.

Analis menjelaskan bahwa Brent diperkirakan akan melaju dalam dua posisi atau terus mengalami fluktuasi dalam kisaran yang sempit antara US$ 61 per barel hingga US$ 63 per barel. Alasannya, pelaku pasar menunggu hasil pertemuan OPEC mengenai kelanjutan pembatasan produksi. OPEC akan melakukan pertemuan di akhir bulan ini.

OPEC bersama dengan sejumlah produsen minyak non-OPEC yang dipimpin oleh Rusia telah menahan produksi sepanjang tahun ini dalam upaya untuk mengakhiri kelebihan pasokan global yang mendorong penurunan harga minyak yang cukup dalam.

Pada pertemuan yang akan berlangsung pekan depan, OPEC dan beberapa negara non-OPEC tersebut diperkirakan akan terus melanjutkan pengenalian produksi lebih panjang dari rencana awal. Dalam perjanjian sebelumnya, pengendalian produksi akan berakhir pada Maret 2018.

“Pelaku pasar hanya menunggu konfirmasi dari OPEC mengenai perpanjangan kesepakatan,” jelas analis senior Saxo Bank Ole Hansen.

Akan tetapi, di luar itu juga ada keraguan dari beberapa pelaku pasar bahwa kesepakatan tersebut tak bakal terus berlanjut. Hal tersebut membuat kenaikan harga minyak terasa berat.

Rusia belum secara terang-terangan mengungkapkan ingin melanjutkan kesepakatan tersebut. Berbeda dengan Arab Saudi dan beberapa negara lain yang telah menyatakan minatnya untuk terus memperpanjang.

“Belum adanya komentar dari Rusia membuat beberapa pelaku pasar menunggu konfirmasi lebih dalam,” lanjut Hansen. ( liputan6.com )