Minyak Rebound dari Penutupan Terendah 12 tahun Terkait Lonjakan Volatilitas

RIFAN FINANCINDO BERJANGKA – Minyak rebound dari level terendah dalam lebih dari 12 tahun di tengah harga yang tervolatile sejak 2009 seiring spekulasi berputar-putar di atas apakah produsen akan bertindak untuk menyokong pasar.

Futures naik sebanyak 5,9 persen di New York, setelah ditutup pada level terendah sejak Mei 2003 di sesi sebelumnya. CBOE Crude Oil Volatility Index, yang mengukur ekspektasi perubahan harga, naik ke posisi tertinggi sejak 2009 pada hari Kamis. Produsen siap untuk bekerja sama dengan pemasok tidak akan melakukan pemotongan kecuali ada kerjasama lengkap, Uni Menteri Uni Emirat Minyak Suhail Al Mazrouei mengatakan dalam sebuah wawancara berbahasa Arab pada Sky News Arabia yang diposting online pada 10 Februari

Minyak mentah turun sekitar 25 persen tahun ini seiring spekulasi surplus di seluruh dunia akan bertahan di tengah prospek peningkatan ekspor dari Iran setelah penghapusan sanksi. BP Plc Chief Executive Officer Robert Dudley pekan ini mengatakan perusahaan itu “sangat bearish” pada minyak selama semester pertama 2016, sementara pedagang Vitol Grup BV melihat harga akan berada di level satu dekade harga rendah.

West Texas Intermediate untuk pengiriman Maret naik $ 1,55 ke level $ 27,76 per barel di New York Mercantile Exchange dan berada di level $ 27,69 pada pukul 09:47 pagi waktu Hong Kong. Kontrak turun $ 1,24 untuk ditutup pada level $ 26,21 kemarin, ditutup turun 19 persen selama enam sesi. Total volume yang diperdagangkan yakni 15 persen di atas 100-hari rata-rata. Harga turun sekitar 10 persen minggu ini.

Brent untuk pengiriman April naik sebanyak $ 1,79, atau 6 persen, ke level $ 31,85 per barel di ICE Futures Europe exchange yang berbasis di London. Harga turun 6,8 persen minggu ini. Minyak mentah patokan Eropa ini diperdagangkan pada premium dari $ 1,28 untuk WTI bulan April. (sdm)

Sumber: Bloomberg