Minyak Perpanjang Penurunannya Terkait Janji Produksi Iran

RIFAN FINANCINDO BERJANGKA – Minyak memperpanjang penurunan bulanan terbesarnya dalam hampir 7 tahun terakhir terkait janji Iran untuk segera meningkatkan produksinya setelah sanksi terhadap produsen di Teluk Persia diangkat.

Minyak berjangka di New York turun sebesar 1,6 persen, setelah membukukan penurunan 21 persen di bulan Juli pada Jumat kemarin. Iran dapat meningkatkan produksi sebesar 500.000 barel per hari dalam seminggu setelah sanksinya berakhir dan 1 juta barel per hari dalam waktu satu bulan setelah itu, menurut pernyataan pelaksana pemerintahan negara Republik Islam News Agency, mengutip perkataan menteri perminyakan Bijan Namdar Zanganeh.

Minyak mentah turun ke bear market bulan lalu seiring melemahnya harga bahan baku di tengah besarnya pasokan dan kekhawatiran bahwa permintaan di China mungkin berkurang dengan pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat. Sanksi terhadap industri minyak Iran akan berakhir pada akhir November nanti, kantor berita kementerian perminyakan Iran Shana melaporkan.

Minyak WTI untuk pengiriman September turun sebesar 77 sen menjadi $ 46,35 per barel pada E-Trading di New York Mercantile Exchange dan berada di $ 46,81 pada 08:00 pagi waktu Singapura. Total volume sebesar 97 persen di atas rata-rata 100-hari pada setiap harinya.

Minyak Brent untuk pengiriman September turun 45 sen menjadi $ 51,76 per barel di London mengacu pada ICE Futures Europe exchange. Harga minyak turun 24 persen sejak level tertingginya di tahun ini pada 6 Mei silam. Minyak mentah acuan Eropa diperdagangkan premium pada $ 4,96 untuk WTI.(mrv)

Sumber: Bloomberg