Minyak Memperpanjang Rebound Di Atas $ 41

RifanFinancindo

RifanFinancindo

RIFANFINANCINDO – Minyak memperpanjang rebound di atas $ 41 per barel karena penurunan terbesar dalam cadangan bensin AS sejak April memangkas kelebihan pasokan yang berada di tingkat musiman tertinggi dalam setidaknya dua dekade terakhir.

Minyak berjangka naik sebanyak 1,4 % di New York setelah naik 3,3 % pada hari Rabu, yang merupakan terbesar dalam tiga minggu. Persediaan bahan bakar motor melemah 3,26 juta barel pada pekan lalu karena kilang-kilang menaikkan tingkat operasi, sesuai data Energy Information Administration. Produksi minyak mentah jatuh untuk pertama kalinya dalam empat minggu, sementara cadangan tiba-tiba diperluas.

Minyak berbalik naik setelah jatuh lebih dari 20 persen ke bear market, ditutup di bawah $ 40 per barel pada hari Selasa untuk pertama kalinya sejak April. Citigroup Inc. hingga Bank of America Merrill Lynch meramalkan penurunan tidak akan lama, sementara Societe Generale SA. mengatakan koreksi harga akan terbatas karena permintaan dan penawaran lebih seimbang.

Minyak mentah West Texas Intermediate untuk pengiriman September naik sebanyak 58 sen menjadi $ 41,41 per barel di New York Mercantile Exchange dan diperdagangkan di $ 41,15 pada pukul 09:45 pagi waktu Hong Kong. Kontrak WTI naik $ 1,32 ke $ 40,83 pada hari Rabu, kenaikan terbesar sejak 12 Juli.

Minyak Brent untuk settlement bulan Oktober menguat sebanyak 55 sen, atau 1,3 persen, ke $ 43,65 per barel di ICE Futures Europe exchange yang berbasis di London. Harga Brent naik 3,1 % menjadi $ 43,10 per barel pada hari Rabu. Acuan global yang diperdagangkan untuk bulan Oktober lebih besar $ 1,48 dari WTI.(Bloomberg)

Harga Minyak Mentah Sesi Asia Lanjutkan Kenaikan

 

Harga minyak mentah naik pada perdagangan Kamis di sesi Asia, memperpanjang kenaikan dari sesi sebelumnya menyusul hasil penarikan besar pada persediaan bensin AS.

Harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan pada $ 41,15 per barel pada 0139 GMT, naik 32 sen, atau 0,8 persen, setelah naik 3,3 persen dan kembali lebih dari $ 40 pada sesi sebelumnya.

Sedangkan harga minyak mentah berjangka patokan internasional Brent diperdagangkan pada $ 43,39 per barel, naik 29 sen, atau 0,7 persen, dari penutupan terakhir mereka.

Lonjakan harga minyak pada Rabu dan Kamis menandai setidaknya akhir sementara untuk tren menurun tajam sejak Juni, yang melihat harga minyak mentah berjangka kehilangan sekitar 20 persen dari nilai mereka.

?Harga minyak menguat setelah laporan mingguan EIA menunjukkan persediaan bensin menurun paling rendah setidaknya selama lima tahun,? kata ANZ Bank.

Persediaan turun 3,26 juta barel menjadi 238.200.000 barel, menurut data dari AS Administrasi Informasi Energi (EIA).

Meskipun kenaikan harga, para pedagang mengatakan bahwa kondisi pasar secara keseluruhan tetap lemah, dengan kelebihan produksi di kedua produk minyak mentah dan produk olahan membebani pasar.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan harga minyak mentah pada perdagangan selanjutnya berpotensi menguat dengan meingkatnya permintaan bensin, namun perlu dicermati meningkatnya persediaan minyak mentah masih memberikan sentimen kekenyangan global dan pergerakan dollar AS yang juga mempengaruhi harga minyak mentah. Harga diperkirakan akan menembus kisaran Resistance $ 41,70 ? $ 42,20, dan jika harga turun akan menembus kisaran Support 40,70 ? $ 40,20. ( http://vibiznews.com )